Satu Anak Balita Gizi Buruk Meninggal

Kompas.com - 07/03/2009, 13:22 WIB

SERANG, KOMPAS — Seorang anak berusia di bawah lima tahun atau balita penderita gizi buruk meninggal dunia pada Jumat (6/3) dini hari. Anak balita asal Desa Kilasah, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, itu meninggal di rumahnya setelah 25 hari dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Serang.

 Penderita gizi buruk itu bernama Supriyadi, yang baru berusia 18 bulan. Dia dibawa ke RSUD Serang karena mengalami demam dan batuk berkepanjangan. Saat meninggal, berat badan anak pasangan Sarmawi-Janti itu hanya 7 kilogram. Padahal, idealnya, berat badan anak seusia Suryadi minimal 11 kilogram.

Sarmawi mengaku tidak mengetahui penyebab gizi buruk yang dialami anaknya. Padahal, pada tahun 2008, anak pertama Sarmawi bernama Surihat juga meninggal karena mengalami gizi buruk.

”Enggak tahu penyebabnya apa, anak-anak saya bisa meninggal seperti itu. Katanya gizi buruk,” katanya.

Sehari-hari Sarmawi bekerja sebagai pencari barang rongsokan. Lelaki itu merawat sendiri kedua anaknya karena istrinya, Janti, bekerja sebagai tenaga kerja wanita di Arab Saudi.

Menurut Sekretaris Dinas Kesehatan Banten Dadang, selama 2008 terdapat 13 anak balita penderita gizi buruk yang meninggal di Banten. Jumlah itu sekitar 0,14 persen dari total penderita gizi buruk, yakni sebanyak 9.267 anak balita. Untuk menekan angka anak balita gizi buruk, tahun ini Pemprov mengalokasikan dana hingga Rp 6,8 miliar, ditambah bantuan pemerintah pusat sebesar Rp 3 miliar.

Anak balita AIDS
Sementara itu, kemarin, seorang anak perempuan berusia dua tahun yang juga menderita gizi buruk masih dirawat di RSUD Serang. Selain menderita gizi buruk, anak balita itu juga terjangkit HIV/AIDS.

Menurut keterangan Santoso Edi dari Klinik Teratai RSUD Serang, saat masuk rumah sakit 23 Februari lalu, berat badan anak balita perempuan itu hanya 6,2 kilogram. Idealnya anak berusia dua tahun itu 12 kilogram. Setelah diperiksa, anak balita itu juga mengalami pembengkakan hati, mengalami infeksi karena jamur mulut. Tim dokter mencurigai ada penyakit lain.

Petugas dari Klinik Teratai, yang merupakan rujukan Voluntary Consulting and Testing (VCT) untuk HIV/AIDS, melakukan tes. Hasilnya, anak balita itu positif terjangkit HIV/AIDS. Diduga anak balita itu tertular sejak lahir dari ibunya yang juga positif HIV/AIDS karena tertular dari suaminya yang merupakan pengguna narkoba.

Secara terpisah, Program Officer Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Banten Arif Mulyawan mengatakan, hingga tahun ini ada 10 ibu positif HIV/AIDS yang melahirkan. Namun, KPA beserta Dinas Kesehatan berhasil mencegah penularan HIV/AIDS dari ibu ke janin melalui program Prevention of Mother to Child HIV Transmission (PMTCT). ”Hasilnya, tiga bayi di antaranya negatif HIV/AIDS meski ibunya positif,” ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau