Istana "Suwung" pada Akhir Pekan

Kompas.com - 08/03/2009, 11:02 WIB
MASA kampanye partai politik peserta Pemilihan Umum 2009 baru dimulai 16 Maret 2009. Namun, aktivitas politik sudah mulai terasa memanas di istana, yaitu Istana Presiden dan Istana Wakil Presiden.

Kesiapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla untuk maju sebagai calon presiden yang membuat panas suasana. Yudhoyono dan Kalla adalah tokoh utama partai masing-masing, Demokrat dan Golkar.

Meskipun sebagai Ketua Dewan Pembina Demokrat, Yudhoyono mengambil alih hampir semua langkah dan kebijakan strategis partai yang didirikannya. Duduk sebagai Ketua Umum DPP Demokrat adalah kakak iparnya, Hadi Utomo.

Kalla duduk sebagai Ketua Umum DPP Golkar sejak dua bulan setelah menjadi wapres. Sebagai partai pemenang Pemilu 2004, terbayang bagaimana kekuatan dan luasnya kader yang harus dibina. Tanpa pura-pura, Kalla mengakui aktivitas politik sebagai kegiatan mulia.

Sampai akhir 2008 kebersamaan dan kepaduan Yudhoyono dan Kalla masih terjaga meski Yudhoyono telah menyatakan diri siap menjadi capres, akhir September 2008. Namun, seusai Rapat Pimpinan Nasional Demokrat, kebersamaan keduanya mulai terganggu.

Makin sengit

Terganggunya hubungan Yudhoyono dan Kalla makin nyata setelah Kalla juga siap menjadi capres. Kalla menyatakan kesiapannya karena merasa lebih baik, lebih cepat, dan lebih punya arah.

Makin dekatnya waktu pemilu legislatif menambah hangat suasana. Yudhoyono dan Kalla sadar, hasil pemilu legislatif akan menjadi modal utama merealisasikan kesiapannya menjadi capres. Karena itu, satu bulan ke depan akan makin sengit dan keras perjuangan dan persaingan keduanya.

Yudhoyono sejak lama sudah tertib dan teratur memanfaatkan tiap akhir pekannya mengurusi Demokrat. Cikeas dijadikan markas kendali seperti yang dilakukan menjelang Pemilu 2004. Kalla, meskipun tidak tertib dan teratur harinya, selalu menyisihkan waktu untuk Golkar yang dipimpinnya.

Pertarungan saat ini sudah terbuka. Wawancara televisi berjudul ”Akhirnya SBY Bicara” diikuti wawancara sama dengan judul ”Kini Giliran JK”. Pada akhir pekan Yudhoyono dan Kalla sama-sama ”bergerilya”.

Pada 7-9 Maret 2009 Yudhoyono dan Kalla melakukan kunjungan kerja sebagai presiden dan wapres. Yudhoyono ke Solo (Jawa Tengah) dan Pacitan (Jawa Timur). Kalla ke Pontianak (Kalimantan Barat), Pangkal Pinang (Bangka Belitung), dan Bandar Lampung (Lampung).

Alasan pertama kepergian Yudhoyono dan Kalla tentu saja kerja untuk negara. Selebihnya tentu saja mengurusi partai dan rencana nyapres masing-masing. Larangan tidak ada karena ukuran yang ditetapkan hanya kepantasan.

Akhir pekan berikutnya, acara Yudhoyono dan Kalla juga sudah terjadwal. Yudhoyono ke Banjarmasin (Kalimantan Selatan) dan Makassar (Sulawesi Selatan), Kalla ke Solo (Jawa Tengah) dan Yogyakarta. Acara negara adalah acara resminya.

Dengan aktivitas ini, jangan mengharapkan bertemu Presiden dan Wapres pada Sabtu-Minggu di Istananya karena akan suwung di sana sampai Pilpres 2009 ada hasilnya. Semboyan state that never sleep memang masih dipegang, tetapi Sabtu-Minggu kan bukan hari kerja.

Kalau tetap ingin ke Istana pada Sabtu-Minggu silakan saja. Wisata Istana yang kini mulai sepi peminatnya toh tetap dibuka. Namun, jangan berharap bertemu Presiden dan Wapres di Istana. Urusan partai telah memanggil mereka. Kita relakan saja. Bukankah liburan tanpa mereka terasa nikmat juga? (WISNU NUGROHO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau