JAKARTA, MINGGU-Mentari pagi itu sangat terik. Merasuk tiap celah rombongan anak-anak belasan tahun yang memadati lobi gedung RRI. Berdesakan satu sama lain. Ngobrol sana. Ngobral sini. Seolah tidak merasakan peluh yang mengalir. Semuanya demi Dokter Gadungan . Itulah karya Moliere yang hendak diusung Teater Keliling untuk penampilannya ke-1408 kalinya itu.
"Eh, jangan ganggu kami! Kami lagi asyik bertengkar nih. Eh salah, kami lagi olahraga ding," kata Saganarel yang diperankan oleh Rudolfo Puspa. Saganarel sedang asyik memukuli kaki, tangan dan kepala istrinya, Martini, dengan payung ketika dua orang juragan Gerson bertamu.
Pertengakaran itu dipicu oleh pem-PHK-an Saganarel yang mengakibatkan ia menjadi tukang kayu. Hari itu Saganarel malas bekerja. "Mentang-mentang di-PHK enak saja nganggur," gertak Martini yang diperankan oleh Dery Puspa. Dery adalah salah satu pendiri dan pemimpin Teater Keliling yang membawa misi pembangunan karakter.
Namun akhirnya, Saganarel pun pergi juga ke hutan untuk mencari kayu. Selama ia bekerja, terjadi dialog serius antara Martini dengan kedua tamunya. Sang tamu, Yamin dan Yara hendak meminta Saganarel menjadi dokter gadungan untuk menyembuhkan Sabrina, puteri Gerson, tuan mereka. "Kami minta tolong karena Sabrina bisu, sehingga pernikahannya ditunda," kata Yamin.
Martini diam sejenak. Berpikir. Menyusun strategi. Mungkin ia berpikir inilah peluang baginya untuk mendapatkan uang dengan cara mudah lagi cepat, sekaligus bisa membalas dendam kepada suaminya.
Baik, saya setuju. Pastinya tidak mudah menyuruh suami saya menjadi dokter. Begini caranya, sambil menyuruh mereka mendekat. Nanti ketika dia datang, kalian harus memukulinya terus paksa dia. "Emmm... tapi, kalau pengobatannya tidak berhasil, uang tidak kembali ya," sambung Martini.
"Beres," kata Yamin dan Yara sambil memberikan uang. Ternyata mereka ini pelayan sekaligus bodyguard Gerson. Martini masuk sambil kipas-kipas dengan uang yang diterimanya.
Singkat cerita, Saganarel mulai beraksi di rumah Gerson untuk mengobati Sabrina. Namanya juga dokter gadungan ya aksinya juga gendeng. Dengan gaya sok paranormal mulailah ia menerawang Sabrina. Dipandangilah wajah cantik Sabrina, senyumnya yang buat nggak tahan pria manapun, rambut panjangnya yang memesona, pandangan turun mengelilingi tubuhnya yang sintal, kakinya yang berjenjang. Lalu, ia mengatakan dengan penuh keyakinan. Inilah hasil diagnosanya.
"Dia ini bisu! Dia bisu karena ia tidak bisa bicara!" kata Saganarel tanpa raut rasa bersalah. Adegan ini sempat membuat penonton yang banyak dari SMA YP IPPI tertawa heboh.
Gendengan tersebut tetap berlanjut, ketika Saganarel menyodorkan resep Gerson. Untuk sembuh, baringkan ia di tempat tidurnya. Beri dia cabai dan pepaya sebanyak 5 kg tiap satu jam. "Karena menurut Sokrates, cabai itu berguna untuk menggerak-gerakkan lidah," kata Saganarel meyakinkan.
Gerson yang memang sudah panik melihat keadaan putrinya dan telah memantapkan hatinya untuk memakai dokter gadungan, tanpa pikir panjang menyuruh para pelayannya untuk memborong semua cabai dan pepaya. Kejadian selanjutnya sudah bisa ditebak. Alih-alih Sabrina sembuh, ia malah lemas tak berdaya, karena mencret yang tak kunjung henti.
Saat inilah Ardo Subronto, kekasih Sabrina muncul. Ia mendekati Saganarel. Omong punya omong, ternyata Sabrina hanya berpura-pura bisu supaya tidak dinikahkan dengan laki-laki pilihan Gerson, ayahnya. Saya akan membantumu, tapi... . kata Saganarel sambil memberi isyarat. Mengetahui maksud Saganarel, Ardo mengeluarkan uang dan memberikan kepadanya. "He, he..tapi ingat! Jangan pernah menilai orang dengan ini (uang) ya," kata Saganarel sambil tetap mengantongi uangnya.
Selanjutnya Ardo menyusup di balik peran Saganarel dengan memakai baju dokter. Ya... gadungan juga. Dengan mengelabui Gerson beserta para pengawal dan pelayannya, Ardo berhasil membawa kekasihnya keluar rumah. Maksud hati mereka ingin kawin lari, karena Gerson tidak menyetujui ikatan kasih cinta mereka. Kekuatan Cinta Ketika penonton yang melihat adegan Ardo dan Sabrina tampaknya mereka menerka kalau keduanya akan tetap kawin lari. Ujung- ujungnya kisah Ardo-Sabrina tidak jauh berbeda dengan kisah Romeo-Juliet atau Antonius-Cleopatra atau pasangan lainnya yang ber- ending dengan kematian salah satu pasangan atau keduanya. Tapi perkiraan mereka salah! Setelah sempat menghilang, mereka berdua masuk kembali. Meminta restu kepada Gerson. Lalu, sesaat kemudian musik rap mendetak-detak. Pelayan Gerson Yola maju, dengan gaya Bob Marley mulai ia beraksi. "Cinta hapuskan kekerasan dan dendam," katanya dengan sangat lantang, walaupun tanpa didengar seriuspun terasa fals. Ia terus menari-nari. Berjoget. Loncat sana, loncat sini. Memecah suasana tegang dalam auditorium. Kocak. Aneh. Dan tentunya tetap fals. Pada akhirnya, cintalah yang berjaya. Dialah yang memenangkan pertempuran emosi di antara insan manusia. Cintalah memberikan keberanian bagi Ardo dan Sabrina untuk meminta restu Gerson. "Kami sadar bahwa bahtera kehidupan keluarga kami harus didasarkan kepada kebenaran, ketulusan dan keadilan," kata Ardo mantap ketika meminta restu Gerson. Cinta pulalah yang meluluhkan keangkuhan Gerson. "Dari hatiku yang paling dalam mengalirlah kebajikan. Kebahagiaan anakku adalah kebahagiaan orangtua," kata Gerson. Cinta yang sama pulalah yang akhirnya membuat Saganarel dan Martini akur kembali. Mereka saling memaafkan. Berjanji untuk tidak lagi pukul-pukulan dan melenyapkan dendam. Cinta juga yang menguatkan hati nurani untuk berbicara. Nurani yang menuntuk pribadi menentukan tindakan yang baik dan benar. Maka tidak berlebihan jika, Saganarel berteriak lantang: Melakukan sesuatu bertentangan dengan hati nurani adalah sebuah siksaan yang menyakitkan!
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang