Turis Asing Juga Minati Grebeg Maulud Yogya

Kompas.com - 09/03/2009, 13:31 WIB

YOGYAKARTA, SENIN — Upacara tradisional Grebeg Maulud  Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang digelar bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Senin berlangsung meriah. Upacara disaksikan ribuan masyarakat dari dalam maupun luar Yogyakarta, serta sejumlah wisatawan mancanegara.
     
Masyarakat menunggu sejak pagi hari untuk menikmati tontonan upacara tradisional turun-temurun tersebut meskipun harus berdiri berdesakan di tengah teriknya matahari.
      
Prosesi grebeg maulud tahun ini tampak menarik perhatian sejumlah wisman, yang dengan sabar menunggu sejak awal hingga berakhirnya upacara tradisional itu dan mereka dengan antusias mengabadikan prosesi adat tersebut, baik melalui kamera maupun kamera video miliknya.
        
Jalannya prosesi upacara tradisional Grebeg Maulud berupa iring-iringan Gunungan Lanang, Wadon, Gepak, Pawuhan, dan Dharat yang dikeluarkan dari dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melewati Siti Hinggil, Pagelaran, Alun-alun Utara hingga berakhir di halaman Masjid Gede Kauman Yogyakarta.
       
Gunungan yang dibuat dari bahan makanan, seperti sayur-sayuran, kacang, cabai merah, ubi, dan beberapa pelengkap yang terbuat dari ketan dan dibentuk menyerupai gunung, yang melambangkan kemakmuran dan kekayaan tanah Keraton Mataram.
      
Parade Gunungan Lanang, Wadon, Gepak, Pawuhan, dan Dharat yang dipimpin oleh Manggoloyudho (panglima perang) GBPH Yudhaningrat (adik Sultan HB X) disambut dengan tembakan salvo oleh para prajurit keraton ketika keluar dari dalam keraton dan melewati Alun-alun Utara.
      
Iringan "gunungan" tersebut dikawal oleh sembilan pasukan prajurit keraton, di antaranya prajurit Wirobrojo, Ketanggung, Bugis, Daeng, Patangpuluh, dan Nyutro. Mereka mengenakan seragam dan atribut aneka warna dan membawa senjata tombak, keris serta senapan kuno.

Selanjutnya, sejumlah "gunungan" dibawa ke Masjid Agung/Besar Kauman Yogyakarta, untuk diberkati dan didoakan oleh penghulu keraton. Kemudian "gunungan" itu menjadi rebutan warga yang sudah sejak pagi menunggu di halaman masjid tersebut.

Sedangkan satu "gunungan" dibawa menuju Pura Pakualaman (berjarak sekitar 1 km dari keraton) dengan dikawal prajurit tradisional dan kemudian menjadi rebutan ratusan warga setempat.
      
Mereka yang memperoleh bagian dari "gunungan" tersebut masih memercayai bahwa sedekah Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X tersebut akan membawa berkah bagi kehidupan mereka.
      
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat selama setahun menyelenggarakan upacara tradisional Grebeg Besar sebanyak tiga kali yaitu Grebeg Syawal diselenggarakan bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, Grebeg Besar bertepatan dengan hari raya Idul Adha, dan Grebeg Maulud atau bertepatan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
      
Sementara itu, Ketua Forum Silaturahmi  Insan Pariwisata  (Fosipa) Indonesia, Sarbini ,di Yogyakarta, mengatakan, upacara tradsisional Grebeg yang diselenggarakan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan kegiatan budaya yang masih manarik perhatian, baik warga Yogyakarta maupun wisatawan mancanegara (wisman).
           
Semestinya, kegiatan adat tradisional tersebut dapat dikemas menjadi paket wisata yang menarik. Apalagi, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi bagian segitiga emas wisata Jateng-DIY yang sering menjadi tujuan utama kunjungan wisman.
      
"Upacara tradisional ini tidak saja diminati oleh wisatawan nusantara (wisnus), namun juga diminati oleh wisman yang tengah berkunjung ke daerah ini," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau