Kecelakaan

Pesawat MD 90 Lion Air Terjerembab di Bandara

Kompas.com - 10/03/2009, 03:20 WIB

 

Tangerang, Kompas - Pesawat jenis Mc-Douglas atau MD 90 milik maskapai Lion Air, Senin (9/3) sekitar pukul 15.35, tergelincir di landasan pacu selatan Bandara Internasional Soekarno-Hatta saat sedang mendarat.

 

Pesawat bernomor penerbangan JT 793 rute Gorontalo-Jakarta itu kemudian terjerembab keluar dari landasan pacu yang berada tak jauh dari perkampungan warga Kelurahan Jurumudi, Kota Tangerang.

 

Sebanyak 166 penumpang dan enam awak langsung dievakuasi setelah pesawat benar-benar berhenti. Tampak mobil pemadam kebakaran dan ambulans siaga di tempat kejadian untuk mengantisipasi kejadian kebakaran dan hal lain yang tidak diinginkan. Sampai malam hari pesawat belum dievakuasi karena menunggu pemeriksaan dari investigator Komisi Nasional Keselamatan Terbang (KNKT).

 

Kejadian itu, menurut juru bicara Lion Air, Eduard Sirait, maupun Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan Bambang Ervan, diduga karena cuaca buruk. ”Saat pesawat mendarat, ada tekanan angin dari sebelah kiri,” ujar Eduard di Bandara Soekarno-Hatta.

 

Posisi akhir pesawat membuat pergerakan pesawat-pesawat lain untuk lepas landas maupun mendarat dari landasan pacu selatan (untuk perjalanan domestik) terhambat.

 

Petugas bandara harus memandu para pilot yang akan menuju landasan pacu. Akibatnya sekitar 15 penerbangan Lion Air ke berbagai jurusan kemarin terlambat sekitar 15 menit.

 

Kecelakaan yang menimpa MD 90 Lion Air ini merupakan yang kedua kalinya pada awal tahun 2009. Akhir Februari lalu sebuah pesawat MD 90 Lion mendarat darurat tanpa roda di Bandara Hang Nadim, Batam. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

 

Menurut Eduard, pesawat yang kemarin tergelincir di Bandara Soekarno-Hatta buatan tahun 1998 dan dalam keadaan layak terbang.

 

Setelah kecelakaan, lalu lintas di dekat terminal 1A bandara setempat macet karena pengemudi mobil memperlambat kendaraannya untuk melihat kejadian itu.

 

Cuaca di sekitar bandara saat kecelakaan terjadi hujan cukup lebat dan terus gerimis saat petugas mengevakuasi penumpang dan barang-barang mereka.

 

”Berdasar informasi, saat pesawat mendarat, hujan deras, angin bertiup kencang dan jarak pandang hanya sekitar 1.000 meter sehingga proses pendaratan terganggu,” kata Bambang Ervan yang sedang berada di Bandara Soekarno-Hatta saat dihubungi Senin malam.

 

Juru bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi, JA Barata, yang dihubungi secara terpisah menginformasikan, sejak Senin petang, satu tim penyelidik atau investigator dari KNKT telah berada di Bandara Soekarno-Hatta untuk mengetahui penyebab kecelakaan.

 

”Tim investigasi kecelakaan Lion Air ini dipimpin oleh Tom J Tumenggung, dibantu dua investigator lain, yakni Kapten Nurcahyo dan Alif Sadikin,” ujar Barata. (DNU/RYO/TRI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau