Tangerang, Kompas -
Pesawat bernomor penerbangan JT 793 rute Gorontalo-Jakarta itu kemudian terjerembab keluar dari landasan pacu yang berada tak jauh dari perkampungan warga Kelurahan Jurumudi, Kota Tangerang.
Sebanyak 166 penumpang dan enam awak langsung dievakuasi setelah pesawat benar-benar berhenti. Tampak mobil pemadam kebakaran dan ambulans siaga di tempat kejadian untuk mengantisipasi kejadian kebakaran dan hal lain yang tidak diinginkan. Sampai malam hari pesawat belum dievakuasi karena menunggu pemeriksaan dari investigator Komisi Nasional Keselamatan Terbang (KNKT).
Kejadian itu, menurut juru bicara Lion Air, Eduard Sirait, maupun Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan Bambang Ervan, diduga karena cuaca buruk. ”Saat pesawat mendarat, ada tekanan angin dari sebelah kiri,” ujar Eduard di Bandara Soekarno-Hatta.
Posisi akhir pesawat membuat pergerakan pesawat-pesawat lain untuk lepas landas maupun mendarat dari landasan pacu selatan (untuk perjalanan domestik) terhambat.
Petugas bandara harus memandu para pilot yang akan menuju landasan pacu. Akibatnya sekitar 15 penerbangan Lion Air ke berbagai jurusan kemarin terlambat sekitar 15 menit.
Kecelakaan yang menimpa MD 90 Lion Air ini merupakan yang kedua kalinya pada awal tahun 2009. Akhir Februari lalu sebuah pesawat MD 90 Lion mendarat darurat tanpa roda di Bandara Hang Nadim, Batam. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.
Menurut Eduard, pesawat yang kemarin tergelincir di Bandara Soekarno-Hatta buatan tahun 1998 dan dalam keadaan layak terbang.
Setelah kecelakaan, lalu lintas di dekat terminal 1A bandara setempat macet karena pengemudi mobil memperlambat kendaraannya untuk melihat kejadian itu.
Cuaca di sekitar bandara saat kecelakaan terjadi hujan cukup lebat dan terus gerimis saat petugas mengevakuasi penumpang dan barang-barang mereka.
”Berdasar informasi, saat pesawat mendarat, hujan deras, angin bertiup kencang dan jarak pandang hanya sekitar 1.000 meter sehingga proses pendaratan terganggu,” kata Bambang Ervan yang sedang berada di Bandara Soekarno-Hatta saat dihubungi Senin malam.
Juru bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi, JA Barata, yang dihubungi secara terpisah menginformasikan, sejak Senin petang, satu tim penyelidik atau investigator dari KNKT telah berada di Bandara Soekarno-Hatta untuk mengetahui penyebab kecelakaan.
”Tim investigasi kecelakaan Lion Air ini dipimpin oleh Tom J Tumenggung, dibantu dua investigator lain, yakni Kapten Nurcahyo dan Alif Sadikin,” ujar Barata.