Martini tersipu malu. Baru belakangan ini, pengusaha handicraft itu diperkenalkan dengan kemampuan internet yang mampu menembus belahan dunia untuk menjajakan hasil kerajinannya. Kini, internet pula yang mulai mengusik pikirannya tentang krisis keuangan global yang melanda dunia.
Masalah krisis keuangan global baru saja diketahui oleh perempuan yang tinggal di Desa Bangungcipto, Sentolo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini.
Dulu, sebelum internet diperkenalkan kepadanya, isu-isu dunia diperolehnya dari televisi atau, kalau sempat membeli, dari koran. ”Saya ini cuma
Namun, Martini mengakui, krisis keuangan global semakin menjadi pembicaraan konsumen, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Padahal, bagi pelaku usaha kecil dan menengah ini, krisis keuangan global masih sulit dipahami.
Hal itu pun diakui Erlyn Eko, perajin batik etnik di Klaten, Jawa Tengah. Bagi Erlyn, pasar domestik sesungguhnya masih bisa dijadikan andalan asalkan produsen mau sedikit susah payah mencari selera pasar tanpa harus menghilangkan kekhasan produknya.
”Kalau dibilang uangnya krisis, kenapa konsumen masih ada saja yang meminati produk kita? Kalau kita bermain kualitas, ya pastilah harga jual juga bisa tambah tinggi,” ujar Erlyn.
Lain halnya dengan perajin furnitur, Oki Widayanto, Chief Executive Djawa, di Ngaglik, Sleman. Di era globalisasi yang menyebabkan pasar semakin terbuka, krisis keuangan global justru disikapi dengan
Dengan modal teknologi
Bahkan, sebelum ada kesepakatan penjualan, Oki mampu memberikan desain dan risiko pengiriman produknya. ”Ke depan, kita tidak bisa cuma bicara kualitas, harga, fungsi, dan desain. Konsumen di luar negeri kini sudah bicara pilihan produk yang
Roda perekonomian diyakini masih tetap harus bergerak. Krisis bukanlah berarti segala usaha juga harus berhenti. Apabila seorang
Tak terhitung, berapa jumlah anggota keluarga si buruh yang ikutan menanggung dampaknya? Praktisi bisnis dari Fletcher School and Columbia Business School, Ignasius Jonan, memandang, saat ini pemerintah dan dunia usaha harus lebih memperkuat unit analisis untuk membaca berbagai perkembangan tren di pasar global.
Hal itu penting agar pengusaha bisa lebih siap menyiapkan langkah antisipasi dalam menghadapi ketidakpastian yang semakin tinggi, khususnya antisipasi untuk
Saat ini banyak fenomena pasar global yang sulit bisa dipahami dengan menggunakan cara pandang atau kerangka pikir konvensional atau dari sisi hukum permintaan dan penawaran saja.
Untuk memahami fluktuasi harga komoditas, termasuk minyak bumi, misalnya, tidak bisa lagi dipahami hanya dengan melihat kedua sisi tersebut.
Tidak ada negara yang bisa menghindar dari arus globalisasi, termasuk Indonesia. Yang bisa dilakukan adalah menghadapinya dengan cerdas agar bisa memetik manfaat.
”Untuk itu, sangat diperlukan kemampuan untuk melakukan analisis secara cermat terhadap setiap perkembangan yang ada agar kita bisa mengetahui kemampuan
Menurut Jonan, di antara negara yang mampu memanfaatkan arus globalisasi dengan baik adalah China dan India, serta sejumlah negara Eropa Timur.
Taraf hidup negara-negara bekas Blok Timur meningkat luar biasa. Pada tahun 2007, pendapatan per kapita (berdasarkan
China dan India pernah mencapai pertumbuhan PDB 8-10 persen per tahun. Di samping itu, China dipercaya telah mengentaskan sekitar 400 juta rakyatnya dari batas garis kemiskinan sejak negeri Tirai Bambau itu membuka diri pada globalisasi tahun 1979 dan diyakini telah memiliki cadangan devisa sekitar 1.300 miliar dollar AS.
Jonan memandang pemerintah harus berupaya memberikan panduan yang lebih tegas dan terarah menghadapi krisis ini sehingga bisa memberikan rasa aman bagi semua pihak, termasuk wirausaha di pedesaan yang kerap buta atau ketinggalan informasi perkembangan ekonomi dunia.
Di sektor keuangan, tantangan terbesar yang dihadapi adalah kemungkinan munculnya tatanan baru di sektor keuangan global. Ini harus diantisipasi karena dampaknya akan begitu besar, tidak hanya terhadap sektor keuangan nasional, tetapi juga akan berdampak pada sektor riil, terutama dalam aspek pembiayaan.
Jangan heran, di saat likuiditas semakin ketat, pelaku usaha terutama di pedesaan justru lebih memilih lembaga keuangan mikro dibandingkan dengan perbankan. Semua itu dijadikan pilihan demi menyambung asa di tengah hiruk pikuk globalisasi.