Pemain Indonesia Harus Perbanyak Tur Internasional!

Kompas.com - 10/03/2009, 22:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia sudah melewati rintangan perdana di ajang Piala Davis. Pekan lalu, tim Merah-Putih menaklukkan Kuwait 3-2 pada penyisihan Grup II zona Asia-Oceania.

Selanjutnya, Selandia Baru yang kualitas pemainnya lebih bagus dari Kuwait akan menjadi lawannya. Menghadapi pertarungan sulit ini, Indonesia perlu persiapan yang lebih matang lagi sehingga kembali meraih kesuksesan.

Nah, agar harapan tersebut bisa terealisasi, maka para pemain Indonesia sepakat perlu ikut banyak turnamen internasional. Menurut Sunu Wahyu Trijati, hal tersebut untuk memperbanyak jam terbang.

"Ketika melawan Kuwait, awalnya saya kesulitan ... Pemain memang harus membiasakan diri dengan iklim turnamen internasional, jadi pemain perlu mengikuti tur untuk dapat melawan pemain-pemain asing. Tetapi jika harus dengan biaya sendiri, hal itu susah," ujar Sunu, Selasa (10/3).

Ketika melawan Kuwait di Stadion Manahan, Solo, 6-8 Maret, Indonesia menang 3-2. Namun, Sunu yang tampil dalam partai tunggal gagal menyumbang angka.

Hal serupa disampaikan satu-satunya anggota tim Indonesia yang mempunyai  peringkat internasional, Christopher Rungkat. Menurutnya, tur internasional diperlukan untuk mengasah ketangguhan dan kepercayaan diri pemain.

Menurut Christopher yang memasang target tahun ini dapat mendongkrak peringkatnya masuk 500 peringkat teratas untuk tunggal dan 300-an untuk ganda, para pemain harus ikut paling kurang 25 hingga 30 turnamen. Namun, lagi-lagi dana menjadi kendala.

"Saya berharap, PP Pelti bisa membantu karena seorang pemain sebaiknya ikut 25 sampai 30 pertandingan internasional," kata petenis kelahiran 14 Januari 1990 itu.

Komitmen pemain

Sementara itu, Ketua Umum PP Pelti Martina Widjaja belum bisa menjamin apakah tim Piala Davis Indonesia dipertahankan. Menurutnya, mereka (Pelti) masih menunggu komitmen para pemain.

"Kami ingin sebisa mungkin mempertahankan tim yang sudah menang. Tetapi harus ditanya lagi keseriusan pemain, mereka mau berada di bawah Pelti dan mematuhi jadwal atau tidak," katanya.

"Kalau tidak (mau), mereka akan dikembalikan ke tempat latihan masing-masing untuk dipanggil kembali jika (turnamen) sudah dekat, sekitar satu atau dua bulan sebelumnya," tambah Martina.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau