Wah, Beban Utang Bertambah 5,871 Miliar Dollar AS

Kompas.com - 11/03/2009, 06:49 WIB
JAKARTA, KOMPAS.comFluktuasi nilai tukar di dunia membuat beban utang pemerintah melonjak 5,871 miliar dollar AS selama 2008. Apalagi sebagian besar utang luar negeri pemerintah berdenominasi yen Jepang yang terapresiasi terhadap dollar AS. Pada saat yang sama, rupiah melemah terhadap dollar AS sehingga beban utang dalam rupiah pun melonjak.

Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan hal itu di Jakarta, Selasa (10/3).

Menurut dia, nominal pinjaman luar negeri dalam 14 mata uang asing—yang didominasi yen Jepang sebesar 47,7 persen dari total utang—sebenarnya tetap sama. Namun, beban utang dalam rupiah menjadi lebih besar, setidaknya per 31 Januari 2009.

”Tambahan beban pembayaran utang akibat kurs itu bergantung pada nilai tukar rupiah terhadap dollar AS saat bunga dan pokok utangnya dibayar waktu jatuh tempo,” ujarnya.

Pada saat pemerintah mengonversi semua utang luar negeri ke dollar AS per 31 Desember 2008, yen terapresiasi terhadap dollar AS. Akibatnya, terjadi fluktuasi nominal utang luar negeri mencapai 5,871 miliar dollar AS.

Total utang luar negeri pemerintah pada 2008, setelah memperhitungkan tambahan utang baru dan menguranginya dengan pembayaran cicilan pokok, seharusnya 59,576 miliar dollar AS. Namun, akibat adanya fluktuasi mata uang, beban pinjaman luar negeri pemerintah bertambah 5,871 miliar dollar AS menjadi 65,447 miliar dollar AS.

Rahmat menegaskan, berapa pun beban pembayaran utang yang harus dibayar pada saat jatuh tempo, Indonesia tetap akan melunasinya. Sebab, jika tidak dibayar, Indonesia akan dikategorikan sebagai negara yang gagal bayar (default). ”Jika realisasi pembayaran kewajiban (bunga dan pokok) di atas pagu anggaran, kami akan tetap melunasinya. Kelebihan pembayaran itu akan dipertanggungjawabkan kepada DPR,” ujarnya.

Terbesar sejak 2001

Nominal tambahan beban pembayaran utang sebesar 5,871 miliar dollar AS itu merupakan yang terbesar sejak tahun 2001. Pada 2001, Indonesia justru mendapatkan keringanan beban akibat penguatan rupiah terhadap dollar AS sebesar 3,245 miliar dollar AS. Hal yang sama terjadi pada tahun 2005, senilai 5,392 miliar dollar AS.

Tambahan beban utang akibat fluktuasi nilai tukar terjadi pada tahun 2003, yakni 4,882 miliar dollar AS. Maka, beban pembayaran utang pada 2008 adalah yang tertinggi selama ini. ”Tambahan 5,871 miliar dollar AS itu adalah stok yang harus dibayar sampai 2055,” ujar Rahmat.

Pengamat ekonomi, Dradjad H Wibowo, mengatakan, Indonesia tetap akan bergantung pada utang, dilihat dari rencana pemerintah yang masih akan mencairkan pinjaman siaga dalam rangka mengantisipasi krisis perekonomian dunia. Pinjaman siaga itu sama dengan pinjaman biasa yang membebani anggaran pemerintah, tetapi dikemas dengan istilah utang siaga. (oin)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau