Segenggam Harapan di Bukit Kasih

Kompas.com - 11/03/2009, 08:06 WIB

UDARA siang itu terasa sangat sejuk apalagi saat melalui jalan aspal berkelok-kelok di perbukitan. Sekitar 50 kilometer telah ditempuh dari kota Manado melewati Tomohon menuju jalan di perbukitan ini. Tujuannya satu, mencapai patung salib putih yang berada di perbukitan hijau bila dilihat dari kawasan pantai Bouevard, Manado.

Ternyata patung salib putih ini berada di puncak pertama obyek wisata Bukit Kasih yang berada di Desa Kanonang, Kecamatan Kawangkoan, Minahasa. Setelah tiba di areal Bukit Kasih, kabut tipis masih melingkupi daerah perbukitan di lereng Gunung Soputan tersebut.

Terdapat monumen Kehidupan Bersama di halaman bawah di mana di bagian bawahnya memuat cuplikan isi kitab suci lima agama di Indonesia. Kontur tanah yang berbukit-bukit dengan vegetasi hijau khas dataran tropis menjadikan cuaca di tempat ini sejuk sepanjang hari.

Berkeliling kawasan ini, pengunjung dapat menaiki anak tangga yang berada di sisi kanan maupun kiri monumen itu. Anak tangga di sebelah kiri bentuknya lebih landai dan lebih dekat menuju puncak pertama berupa salib putih setinggi kurang lebih 53 meter.

Sementara itu, anak tangga sebelah kanan lebih menanjak dengan jarak antar anak tangga sangat tinggi. Ujung anak tangga ini pada puncak kedua di mana terdapat lima rumah ibadah agama di Sulawesi Utara yakni Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha. Tetapi bila mau melanjutkan ke puncak pertama, ada pula jalan memutar menuju ke sana.

Keberadaan lima rumah ibadah agama tersebut menjadi penanda dan alasan tempat ini diberi nama Bukit Kasih. Kelima agama dengan rumah ibadah masing-masing berdampingan dengan rukun, bersahabat dan penuh kasih. Inilah semangat yang dibawa saat pembangunan obyek wisata pada 2002 tersebut.

Keistimewaan lain bukit ini, dulunya terdapat waruga atau makam batu leluhur suku Minahasa yakni Toar dan Lumimuut. Saat ini untuk menandai hal itu, dibuatlah patung bergambar wajah kedua tokoh itu di lereng Bukit Kasih, tepatnya di bawah patung salib putih.

Selain itu, di kawasan ini juga terdapat kawah dengan mata air belerang di tengah-tengah bukit. Penduduk sekitar menggunakan mata air hangat ini sebagai sarana mata pencaharian yakni untuk merebus umbi-umbian, jagung manis, kacang-kacangan, dsb. Wisatawan dapat menikmati sajian hangat yang dijual di sekitar areal itu dengan harga yang cukup murah.
 
Hidangan khas pedesaan itu bisa juga sebagai bekal untuk menaiki sekitar 2.453 anak tangga yang ada di kawasan itu. Bila tiba di puncak, bekal tersebut dapat dinikmati, apalagi udara di tempat itu tergolong dingin.
 
Setelah berkeliling seluruh area, kaki terasa pegal, tak ada salahnya mencoba mandi air hangat di dekat mata air belerang. Dengan merogoh kocek Rp 5 ribu, khasiat air hangat yang mengandung belerang ini bisa dirasakan. Seperti melancarkan peredaran darah, menyembuhkan kram, penyakit kulit, dsb.

Semua keindahan di bukit yang menjadi simbol kerukunan umat beragama di Sulawesi Utara ini mulai memudar. Pasalnya, saat kunjungan ke sana minggu lalu, tiba di puncak kedua, keadaan lima rumah ibadah sangat memprihatinkan. Atap bangunan yang terbuat dari seng dan genteng sudah berserakan dan ada yang tak ada gentengnya sama sekali.

Saat ditanyakan ke pengelola kawasan wisata tersebut, mereka menjawab sudah ada dana dari pemerintah daerah tetapi hingga kini belum juga cair. Menurut pengelola tempat yang enggan disebut namanya, selama ini ia hanya berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap kondisi obyek wisata ini.

Yah, semoga harapan dapat segera digenggam dan tak hanya menjadi sekadar cerita.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau