Setelah menghabiskan
Jika jazz bertumpu pada kebebasan improvisasi dalam berekspresi, musik yang satu ini lebih terikat dengan aturan-aturan ketat dalam menyusun komposisi. Akan tetapi, pesonanya tak kalah magis.
Inilah konser tunggal pertama soprano yang menjadi bintang
Berbicara tentang soprano, jangan bayangkan penampilan Brightman sepert tipikal penyanyi opera yang gendut bak Bianca Castafiore dalam komik Tintin. Brightman yang langsing membuka pertunjukannya dengan mengenakan gaun merah berkibar dan rambut panjang ikal tergerai.
Inilah wajah musik klasik yang berkompromi dengan pasar musik kontemporer. Brightman memang masih membawa orkestra, sebarisan penyanyi latar yang membentuk kor, dan melantunkan suara sopran layaknya dalam sebuah opera klasik.
Namun, ia juga membawa band standar yang bisa membunyikan
Maka mengalunlah ”Sarai Qui”, versi bahasa Italia dari ”There You’ll Be”,
Pengarah musik Jan Eric Kohrs, yang juga memainkan
Pertunjukan Sarah Brightman berjalan dengan sangat tertib, khas disiplin Inggris. Urutan lagu, waktu untuk berganti pakaian, hingga jeda waktu untuk sekadar menyapa penonton tidak meleset sedikit pun dari ”skenario” yang tercantum dalam
Hanya saja masih banyak penonton seenaknya memotret pertunjukan menggunakan lampu kilat yang sangat mengganggu. Cukup mengherankan mengingat para penonton rata-rata berasal dari kalangan atas yang seharusnya memahami etiket dasar menonton pertunjukan seni dalam ruang ini.
Memang agak di luar dugaan, konser yang digelar Buena Productions dengan tiket seharga Rp 3 juta-Rp 7,5 juta per lembar itu ternyata laris manis. Panitia menyebutkan, 90 persen dari kapasitas 1.200 tempat duduk terisi.
Akan tetapi, harga mahal itu terbayar tuntas oleh kualitas suara dan olah vokal penyanyi kelahiran Berkhampstead,
Inggris, 14 Agustus 1960, tersebut.
Saat komposisi ”Time to say Goodbye