JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Kamis (12/3) sore, turun. Namun, posisinya masih di bawah angka Rp 12.000 per dollar AS karena tekanan pasar semakin berkurang.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS turun 10 poin menjadi Rp 11.980/11.997 per dollar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 11.970/11.980.
Analis Valas PT Bank Himpunan Saudara Tbk, Rully Nova, di Jakarta mengatakan, posisi rupiah yang masih di bawah angka Rp 12.000 per dollar AS menunjukkan bahwa Bank Indonesia tetap berada di pasar mengamati kegiatan perdagangan mata uang itu. "Aktifnya BI di pasar mengakibatkan kurs rupiah tetap berada di bawah Rp 12.000 per dollar," ujarnya.
Menurut dia, koreksi harga yang terjadi terhadap rupiah dinilai wajar, setelah dua hari lalu mengalami kenaikan akibat masuknya dana asing dari Timur Tengah, Qtel. "Kami memperkirakan rupiah masih dapat bergerak naik pada hari ini. Namun, aksi lepas rupiah muncul setelah pasar dibuka," katanya.
Rupiah, lanjut dia pada pembukaan pasar sempat menguat 40 poin menjadi Rp 11.930 per dollar AS. Namun, posisi itu tidak bertahan lama karena pelaku melakukan aksi lepas mata uang Indonesia. "Akibatnya, koreksi harga terhadap rupiah terjadi sehingga mata uang lokal itu terpuruk hingga 13 poin," ucapnya.
Kondisi pasar seperti ini menurut dia akan bisa berlanjut sehingga peluang rupiah untuk kembali menguat cukup besar. "Kami optimistis rupiah pada hari berikut akan bisa bergerak naik, apalagi isu positif dari internal juga ada, seperti Indonesia memperoleh pinjaman dari Bank Dunia," katanya.
Bahkan, menurut dia, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh bahkan lebih baik dari negara-negara Asia lainnya karena stabilitas pasar yang terjaga dan investasi asing yang masih terus terjadi. "Karena itu, peluang Indonesia untuk tumbuh masih cukup besar, yang pada gilirannya memicu rupiah kembali menguat," ucapnya.