Arca Buddha di Museum Balaputra Dewa Dicuri

Kompas.com - 13/03/2009, 01:28 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.COM--Arca Buddha peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang tersimpan di Museum Balaputra Dewa, Palembang, Sumatera Selatan, dicuri. Arca yang diperkirakan dibuat dari bahan perunggu pada abad IX itu merupakan barang sitaan Polda Sumsel yang dititipkan sejak tahun 1992.

Salah seorang satpam museum, Muhofir, yang ditemui, Rabu, mengatakan, arca dengan tinggi sekitar 15 sentimeter tersebut baru diketahui hilang sejak Senin (9/3) oleh satpam yang bertugas pada pagi hari. Lemari kaca tempat penyimpanan arca Buddha tersebut terlihat kosong dan pintunya rusak.

Menurut Muhofir, pintu Gedung 2 tempat koleksi tersebut dipamerkan selalu terkunci dan jendelanya dilengkapi dengan teralis besi. Hingga saat ini, kondisi pintu dan jendela tidak mengalami kerusakan.

Ia menambahkan, museum memiliki delapan satpam yang bertugas dalam tiga giliran jaga. Namun, setelah kehilangan arca, semua satpam diperintahkan untuk berjaga-jaga.

Dari buku panduan Museum Negeri Sumatera Selatan diketahui arca yang hilang membentuk Buddha dalam posisi duduk bersila di atas padmasanaganda (tempat berbentuk bunga padma). Buddha terlihat dalam sikap kaki silatasana dan tangan jinanmudra (lambang kebijaksanaan). Bagian belakangan ada stela berbentuk akolade dengan puncak meruncing berhiaskan payung (chattra). Pada pinggiran sandaran arca tersebut dihias motif lidah api.

Orang dalam

Kepala Museum Balaputra Dewa Syafei Wahid saat dikonfirmasi membenarkan adanya pencurian arca koleksi museum itu. Syafei sudah meminta anggota stafnya untuk melaporkan kasus pencurian tersebut ke Kepolisian sektor Sukarami setelah pihak museum melakukan penyelidikan internal.

Ia mengungkapkan kecurigaan keterlibatan orang dalam atas hilangnya arca tersebut. Kecurigaan itu karena ruang pameran museum hanya dibuka siang hari untuk pengunjung.

Syafei mengungkapkan, arca yang ditemukan di situs Bukit Siguntang, Palembang, tersebut disimpan di Museum Balaputra Dewa sejak tahun 1992. Arca itu merupakan hasil sitaan polisi yang kemudian diserahkan ke Museum Balaputra Dewa.

Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti yang dimintai tanggapannya mengaku sangat menyayangkan pencurian tersebut. Alasan dia, temuan peninggalan Kerajaan Sriwijaya pada abad X tidak banyak. Jika ada arca dan prasasti yang ditemukan, jumlahnya hanya belasan.

Arca tersebut diperkirakan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Arca itu pun sering dibawa untuk pameran di luar negeri. (WAD/BOY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau