NEW YORK, KOMPAS.com —Harga minyak mentah rebound (berbalik naik), Kamis (12/3) waktu setempat, karena perhatian pasar fokus pada pertemuan OPEC akhir pekan yang membicarakan produksi yang dapat menekan pasokan di tengah potensi pemulihan ekonomi yang memicu permintaan.
Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman April melonjak 4,70 dollar AS dari penutupan hari sebelumnya, menjadi 47,03 dollar AS per barrel. Di ICE Futures Exchange, London, minyak mentah Brent untuk penyerahan April naik 3,69 dollar AS menjadi 45,09 dollar AS per barrel.
Harga minyak jatuh, Rabu, setelah data menunjukkan stok minyak mentah AS meningkat dengan sentimen berayun terhadap ekspektasi penurunan produksi lagi oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Harga untuk minyak mentah light sweet di perdagangan New York "Pulih kembali dari seluruh penurunan kemarin dan sekarang lebih banyak," kata Andy Lipow dari Lipow Oil Associates, mengutip kontrak New York yang turun 3,38 dollar AS pada Rabu.
Pada hari itu, departemen energi AS (DoE) mengumumkan, persediaan minyak mentah AS meningkat 700.000 barrel pada pekan lalu, yang sedikit lebih banyak daripada ekspektasi pasar. Laporan DoE itu krusial untuk pasar minyak mentah, karena Amerika Serikat adalah negara konsumen minyak terbesar di dunia.
Lipow mengatakan karena berita ekonomi sedikit banyak tampak lebih baik, "pasar minyak mentah menginterpretasikannya sebagai sebuah penahanan penurunan dalam permintaan dan melihat ke depan sebuah pertumbuhan pada tahun berikutnya."
Pada Kamis, pasar terus fokus terhadap prospek penurunan produksi lagi oleh negara-negara anggota OPEC untuk menopang harga dalam pertemuan para menteri mereka di Wina, Minggu.
OPEC, kartel yang memproduksi sekitar 40 persen dari minyak mentah dunia, akhir tahun lalu menyepakati pemangkasan produksi 4,2 juta barrel per hari, karena harga minyak jatuh dari rekor tertinggi di atas 147 dollar AS pada Juli, akibat krisis ekonomi mengurangi permintaan minyak. "Pasar energi kelihatannya telah menyimpulkan bahwa OPEC masih mempertahankan kemampuannya untuk mempengaruhi harga, karena fakta kembali berlarinya harga ke arah 50 dollar AS," kata John Kilduff dari MF Global.
"Namun, karena tanda itu telah didekati, pemikian kedua sungguh-sungguh diuji kembali," kata dia. "Jika tidak ada yang lebih substansial daripada janji-janji yang diwaspadai dari hasil pertemuan akhir pekan itu, pasar akan menunjukkan kekecewaan mereka pada Minggu malam karena pasar Asia buka," kata dia.
Lipow tidak berpikir para menteri OPEC akan menyepakati pengurangan produksi lagi, memberikan kesan mereka dapat "mencoba pemenuhan yang lebih baik."
Presiden OPEC Jose Maria Botelho de Vasconcelos dari Angola mengatakan bahwa kartel dapat memutuskan memangkas produksinya untuk keempat kalinya sejak September lalu.
Sementara produsen minyak OPEC terkemuka, Arab Saudi, mengindikasikan pihaknya akan meminta para anggota memenuhi seluruh pemangkasan produksi sebelumnya, sebelum melakukan pemangkasan baru.
Anggota OPEC garis keras, Iran dan Venezuela, telah membuat kejelasan bahwa mereka akan meminta pemangkasan produksi lagi, sementara Libya mengindikasikan bahwa pengurangan produksi masih sebuah kemungkinan.
Raja Arab Saudi Abdullah menginginkan jangkar harga minyak pada sebuah "harga adil" pada 75 dollar AS per per barrel untuk memerangi kemerosotan harga, yang mengurangi pendapatan dan menciptakan pengurangan besar anggaran untuk beberapa negara anggota OPEC.
Sementara Rusia, nonanggota OPEC, mendukung kartel mengurangi produksinya dan akan "berpartisipasi" dalam setiap upaya itu, kata seorang pejabat Rusia, Kamis. Dalam beberapa bulan terakhir, Rusia telah mengoordinasikan pengurangan produksinya dengan OPEC dalam upaya menstabilkan kemerosotan harga minyak.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang