JAKARTA, KOMPAS.com — Pemilik dana luar negeri semakin gerah menetap di Indonesia. Sepanjang Februari 2009 hingga 10 Maret 2009 aliran ke luar dana asing yang biasa disebut hot money dari Surat Utang Negara (SUN) mencapai Rp 7,25 triliun.
Uang panas juga hengkang dari bursa saham lokal. Bank Indonesia mencatat, investor asing melakukan net selling pada Februari senilai Rp 627 miliar. Jadi, dana asing yang keluar dari SUN dan bursa saham dalam satu setengah bulan terakhir mencapai Rp 7,852 triliun.
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto menilai, penurunan dana asing di SUN termasuk tren deleveraging yang melanda seluruh negara berkembang. "Proses deleveraging ini penyebab dana asing keluar dari Indonesia," kata Rahmat, kemarin.
Investor asing menarik dana besar-besaran karena ingin mengurangi risiko nilai tukar. Rahmat mengaku, tindakan investor asing ini bisa dipahami mengingat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sepanjang Februari terus melemah.
Menipisnya dana asing di SUN ini memang bukan berita yang enak didengar. Sebab, dalam kondisi mata uang global yang sedang bergejolak seperti sekarang, hengkangnya dana asing makin memurukkan nilai tukar rupiah.
Pekan lalu kurs rupiah sempat melemah melampaui Rp 12.000 per dollar AS. Dalam perdagangan di pasar lokal kemarin, kurs rupiah memang sudah menguat kembali menjadi Rp 11.993 per dollar AS.
Kaburnya dana asing telah menggerus cadangan devisa Indonesia menjadi sekitar dollar AS 50 miliar, Februari lalu. Cadangan devisa baru kembali naik setelah pemerintah menjual global medium term notes (MTN) senilai 3 miliar dollar AS pada awal bulan ini.
Pindah ke SBI
Memang tak seluruh dana asing yang hengkang dari SUN dan pasar modal langsung kabur ke luar negeri. Sebagian dana pindah lahan parkir, dari SUN ke SBI. Maklum SBI masih menawarkan bunga yang menggiurkan investor, yakni 8,37 persen-9,33 persen.
Hingga 10 Maret 2009 lalu uang asing yang parkir di SBI mencapai Rp 8,1 triliun atau naik Rp 532 miliar dari posisi per tanggal 6 Maret 2009. Berarti, kepemilikan asing di SBI sudah mencapai 3,5 persen dari total dana SBI yang sebesar Rp 230 triliun.
Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Wimboh Santoso menjelaskan, peningkatan uang asing di SBI terjadi dalam beberapa hari terakhir. Wimboh menilai, kondisi itu merupakan sinyal positif bagi kondisi moneter dan perbankan Indonesia. "Suplai valuta asing jadi ikut meningkat. Jadi, sangat membantu likuiditas dollar," ujar Wimboh.
Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menduga, investor asing memarkir dana di SBI untuk menghindari risiko pasar keuangan yang sedang bergejolak.
Sebab, harga SUN bisa turun mengikuti mekanisme pasar, tidak seperti penempatan dana di SBI yang sudah tentu mendapat jaminan dari bank sentral. "Ini membuktikan, penurunan suku bunga tak menyebabkan capital outflow besar-besaran," ujarnya. (Ade Jun Firdaus/Kontan)