Wah, "Hot Money" Rp 7 Triliun Hengkang dari Indonesia

Kompas.com - 13/03/2009, 08:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemilik dana luar negeri semakin gerah menetap di Indonesia. Sepanjang Februari 2009 hingga 10 Maret 2009 aliran ke luar dana asing yang biasa disebut hot money dari Surat Utang Negara (SUN) mencapai Rp 7,25 triliun.

Uang panas juga hengkang dari bursa saham lokal. Bank Indonesia mencatat, investor asing melakukan net selling pada Februari senilai Rp 627 miliar. Jadi, dana asing yang keluar dari SUN dan bursa saham dalam satu setengah bulan terakhir mencapai Rp 7,852 triliun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto menilai, penurunan dana asing di SUN termasuk tren deleveraging yang melanda seluruh negara berkembang. "Proses deleveraging ini penyebab dana asing keluar dari Indonesia," kata Rahmat, kemarin.

Investor asing menarik dana besar-besaran karena ingin mengurangi risiko nilai tukar. Rahmat mengaku, tindakan investor asing ini bisa dipahami mengingat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sepanjang Februari terus melemah.

Menipisnya dana asing di SUN ini memang bukan berita yang enak didengar. Sebab, dalam kondisi mata uang global yang sedang bergejolak seperti sekarang, hengkangnya dana asing makin memurukkan nilai tukar rupiah.

Pekan lalu kurs rupiah sempat melemah melampaui Rp 12.000 per dollar AS. Dalam perdagangan di pasar lokal kemarin, kurs rupiah memang sudah menguat kembali menjadi Rp 11.993 per dollar AS.

Kaburnya dana asing telah menggerus cadangan devisa Indonesia menjadi sekitar dollar AS 50 miliar, Februari lalu. Cadangan devisa baru kembali naik setelah pemerintah menjual global medium term notes (MTN) senilai 3 miliar dollar AS pada awal bulan ini.

Pindah ke SBI

Memang tak seluruh dana asing yang hengkang dari SUN dan pasar modal langsung kabur ke luar negeri. Sebagian dana pindah lahan parkir, dari SUN ke SBI. Maklum SBI masih menawarkan bunga yang menggiurkan investor, yakni 8,37 persen-9,33 persen.

Hingga 10 Maret 2009 lalu uang asing yang parkir di SBI mencapai Rp 8,1 triliun atau naik Rp 532 miliar dari posisi per tanggal 6 Maret 2009. Berarti, kepemilikan asing di SBI sudah mencapai 3,5 persen dari total dana SBI yang sebesar Rp 230 triliun.

Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Wimboh Santoso menjelaskan, peningkatan uang asing di SBI terjadi dalam beberapa hari terakhir. Wimboh menilai, kondisi itu merupakan sinyal positif bagi kondisi moneter dan perbankan Indonesia. "Suplai valuta asing jadi ikut meningkat. Jadi, sangat membantu likuiditas dollar," ujar Wimboh.

Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menduga, investor asing memarkir dana di SBI untuk menghindari risiko pasar keuangan yang sedang bergejolak.

Sebab, harga SUN bisa turun mengikuti mekanisme pasar, tidak seperti penempatan dana di SBI yang sudah tentu mendapat jaminan dari bank sentral. "Ini membuktikan, penurunan suku bunga tak menyebabkan capital outflow besar-besaran," ujarnya. (Ade Jun Firdaus/Kontan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau