Jateng, Magnet Nasional

Kompas.com - 13/03/2009, 08:52 WIB

Oleh Winarto Herusansono

MENJELANG kampanye terbuka 16 Maret hingga 5 April 2009, Provinsi Jawa Tengah menjadi medan magnet bagi partai politik besar untuk mendulang suara pemilih. Sejumlah tokoh nasional akan meramaikan kampanye terbuka di provinsi dengan sekitar 26 juta pemilih terdaftar itu.

Berdasarkan peta politik pascapemilihan gubernur Jawa Tengah 22 Juni 2008, PDI-P memang masih merajai dengan memenangkan pasangan mereka, Bibit Waluyo (mantan Panglima Kodam V Diponegoro) dan Rustriningsih (mantan Bupati Kebumen) sebesar 43,44 persen.

Disusul oleh Partai Golkar yang mengusung Bambang Sadono dan Ketua PWNU Jateng M Adnan, serta calon dari Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera Sukawi Sutarip (Wali Kota Semarang dan Ketua DPD PD Jateng).

Tidak dapat dimungkiri, Jawa Tengah adalah lumbung suara tradisional Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri, tentunya setelah Bali. Meski demikian, tidak kurang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla, capres Partai Hanura Wiranto, capres Gerindra Prabowo Subianto, dan capres alternatif Sutiyoso akan serius berkampanye di Jateng.

Sekretaris Umum DPD Partai Demokrat Jateng Dani Sriyanto, Rabu (11/3), mengemukakan, Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau biasa disapa SBY akan berkampanye di Kota Semarang pada 5 April 2009. SBY memilih berkampanye pada hari terakhir sebelum masa tenang ditetapkan DPD Partai Demokrat Jateng setelah SBY menggarap pula wilayah DI Yogyakarta.

”Tema besar kampanye itu, keberhasilan pemerintah saat ini harus dilanjutkan. Tema itulah yang menjadi ikon tema besar Partai Demokrat pada kampanye terbuka nanti,” ungkap Dani.

Salah satu alasan SBY berkampanye di ibu kota Jateng, Semarang, menurut Dani, karena kekuatan massa Partai Demokrat di kawasan pantai utara, khususnya Semarang dan Rembang, cukup besar. Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip juga merupakan Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Tengah. Posisi ini mempermudah konsolidasi massa, termasuk konsolidasi pengamanan kampanye.

Di kubu Partai Golkar, Ketua DPP Partai Golkar Firman Subagyo menjelaskan, sebagai calon presiden, Jusuf Kalla juga serius menggarap Jateng. JK bahkan telah memilih jadwal kampanye terbuka di Jateng pada 25 Maret dan 4 April 2009. ”Kami belum memutuskan mengenai lokasi tepatnya di mana JK akan berkampanye. Bisa di Solo, Magelang, atau Semarang. Hal itu bergantung pada jadwal nanti, menyesuaikan dengan agenda KPU,” kata Firman.

Firman menjelaskan, JK akan didukung oleh tokoh-tokoh nasional dalam berkampanye menggarap potensi suara Jateng. Tokoh lain juga turun, seperti Siswono Yudo Husodo, Akbar Tandjung, juga Sultan Hamengku Buwono X yang banyak dikenal masyarakat.

Mengenai upaya PDI-P untuk mempertahankan mayoritas perolehan suara pada Pemilu 2004, menurut Sekretaris Umum DPD PDI-P Jateng Nuniek Sriyuningsih, PDI-P tetap berkonsentrasi pada kampanye di Solo, Wonogiri, Sragen, Sukoharjo, Boyolali, dan sekitarnya.

Untuk itu, jadwal kampanye Megawati pun akan diarahkan ke daerah Solo dan sekitarnya. Caleg potensial, seperti Tjahjo Kumolo, yang bertarung di Kota Semarang dan sekitarnya serta Puan Maharani di Kota Solo dan sekitarnya juga telah berkampanye langsung ke masyarakat. ”PDI-P akan mengurangi pengerahan massa pada kampanye terbuka,” katanya.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Jateng Ida Budhiati menjelaskan, KPU telah meniadakan batasan wilayah kampanye sesuai dengan Surat Keputusan KPU Nomor 115 Tahun 2009. Dengan aturan baru itu, kampanye untuk satu partai politik bisa berlangsung serentak di seluruh Jateng. ”Kampanye bisa seperti pasar bebas. Silakan berkampanye sesuai dengan jadwal yang disiapkan KPU,” ungkap Ida.

Menyambut kampanye yang bakal berlangsung hiruk-pikuk ini, Kepolisian Daerah Jateng dan Komando Daerah Militer IV Diponegoro menggelar simulasi pengamanan pemilu di Jalan Pahlawan Semarang, Rabu lalu. 

(HERPIN DEWANTO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau