"Anak Menteri" Zimbabwe Tipu Ibu Guru

Kompas.com - 13/03/2009, 14:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Setiap orang pasti pernah mendapat wejangan "Jangan berbicara atau percaya dengan orang tak dikenal" oleh orangtua ataupun gurunya. Namun, apa yang terjadi jika seorang guru melanggar wejangan itu?

Itulah yang menimpa Grasia (nama samaran), seorang guru di sebuah sekolah elite di Jakarta. Ia tertipu mentah-mentah karena terbujuk rayuan dua orang asing yang mengaku sebagai anak menteri di Zimbabwe. Akibatnya, uang Rp 450 juta milik Grasia raib.

"Kerugian korban Rp 450 juta. Tersangkanya dua orang warga negara Liberia yang mengaku sebagai anak menteri di Zimbabwe," ujar Direktur Kriminal Umum Polda Metrojaya Kombes M Iriawan kepada wartawan melalui pesan singkatnya, Jumat (13/3) di Jakarta.

Menurut dia, kedua tersangka yang bernama David Aloysius alias Jeruma alias William dan Samson Babyboy alias Faruk berpura-pura akan bersekolah di Indonesia dan sedang membutuhkan dana awal untuk mencairkan uang 2 juta dollar AS yang mereka miliki. Mereka pun berniat menukarkan uang tersebut kepada Grasia dan melakukan pertemuan pada Selasa pukul 23.00 di Apartemen Mediterania, Jalan Gajah Mada, Jakbar.

"Namun, kenyataannya tidak ada uang 2 juta dollar AS," ujar Iriawan. Keduanya pun ditangkap dengan dugaan penipuan dan atau penggelapan setelah korban melapor.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau