Heboh Arca Wisnu di Bukitlama

Kompas.com - 14/03/2009, 10:05 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com — Arca Budha hilang, kini muncul Arca Wisnu. Warga RT 39 RW 12 Jl Ogan Kelurahan Bukitlama dibuat heboh, Jumat (13/3). Balai Arkeologi Palembang bahkan menurunkan lima arkeolog, termasuk Kepala Balai Arkeologi Nurhadi Rangkuti, untuk memeriksa arca itu.

Arca Wisnu itu milik Sugianto (40), seorang perajin perabotan ukiran kayu. Ditemukan 24 September 2008, tapi baru dilaporkan ke Balai Arkeologi Palembang, Jumat (13/3) pagi. Momennya pas dengan kasus raibnya Arca Buddha dari Museum Balaputra Dewa.

Awalnya warga tidak tahu, tapi melihat wartawan ramai datang ke rumah Sugianto, mereka berduyun-duyun datang menyaksikannya. Beberapa warga mengira itu adalah Arca Budha yang raib. Lalu lintas kendaraan sempat macet. Warga makin banyak yang datang seusai shalat Jumat di masjid depan rumah Sugianto.

Arca Wisnu itu tingginya 31 cm, lebar 18 cm, tebal 18 cm berwarna kuning memiliki empat tangan. Tangan kanan atas memegang cakra (senjata), tangan kanan bawah bersandar di paha kanan pada posisi waramudra. Sedangkan tangan kiri atas memegang camara (pengebut lalat) dan tangan kiri bawah memegang kendi.

Posisi kaki duduk bersila di atas padmasana (bunga teratai) dengan tubuh bersandar pada praba (lidah api tanda kedewaan). Arca mengenakan kiritamakuta (mahkota). Ada upawita (selendang) yang menyelempang dari bahu kiri ke dada terus ke belakang tubuh.

Nurhadi Rangkuti mengatakan, ditilik dari sikap dan kelengkapan ornamen, arca tersebut berasal dari abad IX. Namun, keasliannya diragukan karena belum pernah ditemukan arca serupa berbahan kuningan. Umumnya arca logam dibuat dari perunggu atau perunggu dilapisi emas.

Perunggu adalah logam yang dibuat dari hasil campuran tembaga (Cu) dengan timah (Sn). Sedangkan kuningan dibuat dari tembaga dan seng (Zn). Menurut Retno Purwanti, secara kasat mata kedua logam itu berbeda.

“Perunggu lebih berat dibanding kuningan. Warnanya juga, perunggu kuning tapi agak putih. Tidak kuning mengilap seperti kuningan. Memang pakaian kebesarannya lengkap dan sangat meyakinkan,” kata Retno Purwanti, arkeolog.

Rencananya, Arca Wisnu itu akan diteliti Balai Arkeologi, Senin (16/3) lusa, untuk membuktikan asli atau palsu menggunakan alat pinjaman dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi.

Nurhadi Rangkuti meragukan keasliannya karena di daerah Trowulan, Jawa Tengah, ada pengrajin yang membuat arca dari kuningan dan perunggu. Sedangkan arca berbahan batu dibuat pengrajin di Muntilan.

Bawa keberuntungan

Arca Wisnu itu ditemukan Alex Anggara, putra Sugianto, di depot pertukangan kayu samping rumah. Pagi itu ia membersihkan bagian dalam lemari. Arca berada di rak sisi kiri lemari, berdiri tegak dan sudah lengket dengan papan. “Ada suara, krak, ketika saya tarik lepas. Arca ini banyak karat berwarna hijau, tapi sudah kami bersihkan,” kata Alex. Temuan itu langsung diberitahukan pada ayahnya.

Uniknya, lemari ukir itu sudah hampir setahun di depot Sugianto. Milik seorang warga (mereka lupa di mana alamatnya) yang memberi upah perbaikan karena lemari rusak parah. Kaki lemari tinggal satu dan pintu tidak terkunci. Selama di depot, lemari itu sering digunakan anak-anak sekitar rumah untuk bermain masak-masakan.

Alex menuturkan, lemari kayu itu diambil dari loteng rumah pemiliknya. “Sampai selesai diperbaiki bulan kemarin (Februari, red), pemilik lemari tidak menanyakan arca itu. Biasanya kalau pelanggan ada ketinggalan barang, ditanya. Ini tidak,” kata Alex.

Sugianto menambahkan, temuan itu hanya diceritakan pada Gunawan, staf pegawai di Balai Arkeologi Palembang. Sedangkan warga tidak diberitahu. Hanya saja, Gunawan baru menceritakannya kepada Retno Purwanti kemarin pagi.

“Aku tidak mengerti benda ini, lebih baik lapor karena mungkin dibutuhkan. Disimpan juga tidak ada gunanya, malah jadi beban pikiran. Nanti, bagaimana pemerintah saja,” kata Sugianto.

Seperti biasa, penemuan benda antik dikaitkan dengan unsur mistis. Alex meyakini arca tersebut membawa keberuntungan karena setelah penemuan ia lantas diterima bekerja. Ia berencana tidak melepas arca itu meski diminta pemerintah.

Sugianto menceritakan, setelah menyimpan arca tersebut, para tukang yang bekerja padanya tidak berani lagi tidur di depot. Suatu malam, Wak Yon (40), tukang ukir asal Sukabangun, tidur di depot tiba-tiba menjerit histeris. “Katanya ada makhluk besar. Mereka takut semua. Saya sendiri pernah mimpi ada orang besar tapi cuma kelihatan kakinya. Tapi, mungkin karena saya berpikir berlebihan,” ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau