JAKARTA, KOMPAS.com — Selain baliho, spanduk, dan poster dengan sistem pencetakan digital yang menjadi tren musim Pemilu 2009, One Way Vision juga ambil bagian. Apa itu One Way Vision? One Way Vision (OWV) adalah kaca film bergambar pada kaca-kaca mobil.
Sesuai namanya, orang dari luar tidak dapat melihat ke dalam mobil dan hanya dapat melihat gambar yang terpampang. Sementara itu, dari dalam, pengemudi dan penumpang bebas melihat ke luar. Jika sebelumnya OWV marak dipasang pada mobil-mobil dinas untuk pemasaran produk atau jasa, sekarang para caleg juga getol menghias mobilnya dengan gambar narsisnya melalui medium ini.
Begitu pula dengan Nur Kholisoh, caleg perempuan untuk DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Karena melihat perkembangan tren ini, Nur pun mengadopsi metode ini untuk berkampanye. Namun, Nur mengaku baru menggunakan metode ini dalam tiga minggu terakhir.
"Baru saja karena saya menyadari itu (OWV) jangan dijadikan atribut inti. Ini hanya untuk mengingatkan konstituen yang sudah pernah kita datangi saja," ujar Nur kepada Kompas.com kemarin sore.
Selain dipasang di mobil pribadinya, One Way Vision yang memuat informasi dirinya itu dipasang di sejumlah angkot di daerah pemilihannya, DKI III. Minimal lima angkot dipasang di beberapa titik di dapilnya, seperti Cengkareng, Tanjung Priok, dan Koja.
Nur mengaku melirik metode ini karena biayanya tidak terlalu mahal. Biaya pembuatannya hanya berkisar Rp 80.000 per meter persegi, belum termasuk diskon jika membuat dalam jumlah besar. Lalu, koordinasi dengan pihak pengemudi angkot juga tidak terlalu sulit.
Sebagian dari mobil milik teman dekatnya tidak dikenakan biaya pemasangan, sedangkan bagi mereka yang meminta biaya pemasangan, Nur tak segan-segan merogoh koceknya Rp 150.000-Rp 200.000 untuk memasangnya di angkutan umum yang bersangkutan. Perjanjiannya sampai batas akhir kampanye pemilu legislatif.
Hingga hari ini, total uang yang dikeluarkan Nur untuk membuat One Way Vision dan juga mencetak spanduk serta poster berteknologi cetak digital berkisar Rp 5 juta. Baginya, iklan-iklan semacam ini bukanlah inti sehingga dirinya tidak menghabiskan banyak uang untuk beriklan.
"Iklan itu ada limit. Bagaimana bisa jabarkan program serta visi misi," tandas perempuan yang aktif mengajar di fakultas komunikasi sebuah universitas swasta di Jakarta ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang