HIV/AIDS, Jangan sampai Tulari Balita

Kompas.com - 14/03/2009, 15:15 WIB

KOMPAS.com Pada awal tahun 2009, dua anak berusia di bawah lima tahun yang terinfeksi virus HIV di Provinsi Banten meninggal dunia. Jumlah kasus HIV di wilayah itu juga melonjak tajam. Kondisi ini menunjukkan belum optimalnya pelaksanaan sistem kesehatan untuk menangani penyebaran virus itu.

Pada kasus terakhir, seorang anak perempuan berusia balita yang terjangkit HIV meninggal dunia setelah dirawat dua pekan di Rumah Sakit Umum Daerah Serang. Dia meninggal karena komplikasi penyakit.

Ini kematian ketiga warga Banten akibat HIV/AIDS dalam tiga bulan pertama tahun ini. Sebelumnya, pada 2 Februari, perempuan dewasa pengidap HIV asal Merak, Cilegon, meninggal, disusul anak perempuan usia balita pada 18 Februari silam.

”Setiap tahun jumlah pengidap HIV/AIDS di Banten meningkat,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Banten Dadang. Di Banten, HIV/AIDS dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) karena peningkatan kasus dua kali daripada tahun 2008.

Akhir 2008, jumlah kumulatif pengidap HIV/AIDS di Banten 1.271 orang. Pada dua bulan pertama tahun 2009, jumlah meningkat pesat sehingga mencapai 1.413 orang.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama membantah bahwa Banten ditetapkan sebagai KLB HIV/ AIDS. ”Saya tidak pernah menandatangani surat penetapan KLB HIV/AIDS, termasuk untuk Banten,” ujarnya.

Di berbagai negara di dunia, kasus HIV/AIDS tidak pernah dinyatakan outbreak karena perkembangan virus HIV dan komplikasi penyakit butuh waktu bertahun-tahun atau kronis. ”Peningkatan kasus tidak tiba- tiba terjadi, tetapi kemungkinan baru didiagnosis,” kata Tjandra.

Mengutip data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, hingga Desember 2008 jumlah kasus AIDS mencapai 16.110 orang. Ada 22 provinsi dan 214 kabupaten atau kota melaporkan ada kasus HIV/AIDS di daerahnya.

Depkes menyebutkan, Banten tidak termasuk dalam 10 provinsi dengan angka kasus HIV/ AIDS tertinggi di Indonesia. Sementara itu, Dinkes Banten menyatakan, tahun ini provinsi tersebut pada posisi kelima kasus HIV/AIDS tertinggi.

Peningkatan kasus HIV di Banten diduga akibat makin banyak tempat layanan kesehatan yang membuka layanan tes HIV dan konseling sukarela (VCT). Faktor lain, pengidap HIV tidak terdiagnosis sejak dini hingga terjadi komplikasi penyakit.

Menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Nafsiah Mboi, meningkatnya kasus HIV di Banten bisa jadi karena kemampuan mendeteksi atau diagnosa kini lebih baik. Selain itu, banyak dokter dan bidan yang dilatih untuk menemukan kasus HIV/AIDS.

”Kalau tertularnya sudah lama dan baru ditemukan karena diagnosa yang makin baik. Namun, bisa jadi peningkatan kasus karena memang kasus baru. Kalau perilaku berisiko jalan terus, melalui jarum suntik narkoba dan hubungan seks yang tidak aman, ya kasus HIV/AIDS bisa meningkat,” kata Nafsiah.

Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia Prof Zubairi Djoerban menilai lonjakan kasus HIV di provinsi yang berbatasan dengan DKI Jakarta itu merupakan puncak gunung es dari besarnya angka kasus HIV. ”Estimasi angka kasus HIV/ AIDS 270.000 orang,” ujarnya.

Meninggalnya tiga pengidap HIV dalam tiga bulan pertama menunjukkan keterlambatan diagnosis yang menentukan efektivitas terapi. ”Kalau pelayanan kesehatan bagi pengidap HIV tidak dikelola baik, diagnosis dini sulit dilakukan,” ujarnya.

Saat ini belum semua dokter punya kompetensi menangani pasien terinfeksi HIV. ”Perlu pelatihan bagi dokter umum dan spesialis mengingat makin banyaknya jumlah pengidap,” ujarnya menegaskan. ”Saat ini akses pengidap terhadap obat-obatan antiretroviral (ARV) sudah mudah. Makin dini mendapat ARV, makin baik bagi kesehatan pengidap,” ujarnya.

Bisa dicegah

Sebenarnya HIV/AIDS bisa dicegah sejak awal agar tidak menulari bayi dan anak-anak, yaitu melalui pemberian obat ARV pada ibunya. ”Anak balita tertular dari orangtua melalui si ibu. Ibu bisa jadi tertular dari suaminya,” kata Nafsiah.

Virus bisa menular saat kehamilan, persalinan, dan saat ibu menyusui. HIV pada ibu bisa dicegah dengan cara suami yang positif HIV sebaiknya berhubungan seks secara aman agar tidak menulari istrinya. Namun, kalau istri sudah tertular HIV, langkah berikutnya bisa dicegah agar tidak menulari janin. ”Pada waktu hamil, melahirkan, dan menyusui, sebaiknya ibu minum ARV supaya virus dalam darah dan air susunya tetap rendah, bahkan bisa berkurang,” kata Nafsiah.

Bayi dan anak balita yang telanjur terinfeksi HIV bisa diberi ARV dalam bentuk tetes. ”Setiap hari diberikan. Untuk sementara ARV tetes bisa diakses di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. ”Kasus penularan HIV didominasi kalangan pengguna narkoba suntik melalui penggunaan jarum tidak steril bergantian,” kata Tjandra.

Tergantung luar negeri

Penanganan pengidap HIV/AIDS di Banten masih bergantung pada bantuan luar negeri. Tiga klinik VCT yang menangani pengidap HIV/AIDS dioperasi dengan bantuan dari lembaga luar negeri.

Ketiga klinik VCT itu adalah Klinik Teratai di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Serang, Klinik Bougenvil di RSUD Kabupaten Tangerang, dan Klinik Qadar di Rumah Sakit Qadar, Tangerang. ”Dana bantuan berasal dari Global Fund. Belum ada dana pendamping dari pemerintah daerah,” kata Kepala Klinik Teratai Santoso Edi.

Padahal, saat ini, ketiga klinik tengah menangani ratusan pengidap HIV/AIDS. Sekitar 200 pengidap di antaranya menjadi pasien tetap Klinik Teratai, termasuk lima anak balita yang positif HIV/AIDS.

Setiap bulan, Klinik Teratai harus melayani seluruh pasien HIV/AIDS, termasuk memberikan obat ARV. Jika bantuan dana dari luar negeri itu dihentikan, maka pelayanan terhadap pasien terancam terhenti. Padahal, menurut Santoso, pasien HIV/AIDS adalah pasien yang harus dilayani seumur hidupnya.

Tahun ini, Pemerintah Provinsi Banten mengalokasikan Rp 5 miliar untuk penanggulangan HIV/AIDS. Menurut Koordinator Populasi Kunci Banten Dodi Ahmadi, dana tersebut hanya untuk membeli dua unit alat pengukur sistem kekebalan tubuh (CD4). (Anita Yoshihara/Elok Dyah Messwati/Evy Rachmawati)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau