Paskah: Sudah Empat Kali Nyaleg

Kompas.com - 14/03/2009, 16:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gempita pesta demokrasi Pemilu 2009 semakin santer terdengar. Sejumlah calon legislatif (caleg) juga gencar melakukan kampanye dan mengincar posisi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Namun, Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta justru enggan dan mengaku kapok menjadi caleg.

"Saya pernah ikut empat kali pemilu dan duduk di DPR. Karena itu, saya tidak mau ikut lagi jadi caleg, takut kalah. Kalau kalah, kita malu," seloroh Paskah, di sela sosialisasi UU RPJPN 2005-2025, di gedung KPU, Jakarta, Sabtu (14/3).

Paskah menilai, pemilu tahun ini sangat luar biasa. Peluang untuk kalah juga lebih besar dibandingkan pemilu sebelumnya karena caleg dipilih berdasarkan suara terbanyak.

"Sekarang potensi untuk kalah lebih besar karena suara terbanyak. Kalau dulu kan berdasarkan nomor. Lagi pula untuk apa calon lagi, kan sudah jadi menteri," tuturnya.

Namun, lebih jauh Paskah menuturkan keengganannya ikut caleg karena, dalam ketentuan Partai Golkar, tidak diperbolehkan untuk mengajukan caleg lebih dari tiga kali.

"Saya sudah empat kali jadi caleg. Kalau partai saya kan ada ketentuan maksimal tiga kali," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau