JAKARTA, KOMPAS.com — Para eksportir Indonesia dinilai kurang berupaya keras dalam membuka pasar tujuan ekspor baru atau melakukan ekspor sendiri tanpa menggunakan jasa perantara yang biasanya dikuasai Singapura. Padahal akibat krisis, eksportir Indonesia bisa mandiri dan mengambil alih peran para trader atau broker (calo) perdagangan internasional di Singapura yang saat ini tertekan akibat krisis perekonomian global.
"Selama ini, barang kita diperdagangkan orang lain, terutama Singapura. Akibatnya, Indonesia tidak memiliki eksportir yang tangguh. Saat ini, ketika produsen barang Indonesia berupaya menerobos pasar ekspor sendiri, mereka mulai menghadapi berbagai hambatan dari negara tujuan ekspor, biasanya masalah kebersihan produk atau isu lingkungan," ujar Deputi Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan Menko Perekonomian Eddy Putra Irawady di Jakarta, Minggu (15/3).
Menurut Eddy, ekspor Indonesia juga tertekan oleh turunnya komoditas unggulan dan melemahnya permintaan di negara tujuan ekspor. Selain itu, sebagian besar eksportir Indonesia didominasi oleh perusahaan asing yang membangun pabrik di dalam negeri. Ketika para pengusaha itu mengalami kerugian di negara asalnya, kondisi perusahaan di Indonesia terkena dampaknya.
"Hanya sekitar 15 persen pemilik perusahaan berorientasi ekspor yang berdomisili di Indonesia, selebihnya berada di luar negeri. Sekitar 19-20 persen dari eksportir asal dalam negeri merupakan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah)," kata Eddy.
Untuk menangani masalah ekspor akibat hambatan di negara tujuan, pemerintah telah membentuk sebuah unit khusus yang memberikan pendampingan secara langsung kepada para eksportir yang terkena masalah. "Selain itu, kami berupaya agar UMKM berorientasi ekspor mendapatkan bantuan pembiayaan dari lembaga keuangan, baik bank dan nonbank," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang