KOMPAS.com — Waktu hampir menunjukkan tengah hari. Lalu lintas di Jalan Barito sangat padat melintasi Pasar Burung. Tetapi pasar itu masih sepi pengunjung. Seorang bapak masuk ke salah satu kios yang berisi dagangan kucing persia, hamster, ayam kate, dan kelinci.
"Halo om, nyari apa?" sapa Jaja, pemiliki kios tersebut. Laki-laki yang disapa om tersebut memakai pakaian serba hijau. Ada tulisan Mabes AD di celana panjang yang ia pakai. Ternyata om yang datang bersama dua anaknya itu mencari anak kucing persia untuk anak perempuannya.
Meski terlihat makin sepi, pedagang di Pasar Burung Barito masih melakukan kegiatan seperti biasa. Mereka seolah tidak memedulikan rencana relokasi yang hendak dilakukan pemda. Namun, apa sebenarnya yang ada dalam hati mereka?
Kompas.Com mencoba menyisir lokasi para pedagang, mulai dari ujung Jalan Barito dengan para pedagang makanan sampai pedagang terakhir di sana. Yang mengherankan, ketika bertanya kepada semua pedagang di sana, baik warteg, pedagang buah, pedagang burung, makanan burung, dan pedagang kandang burung, semuanya tidak mau menjawab seputar isu relokasi.
"Saya tidak tahu, tanya aja dengan pengurus pasarnya di sana," kata seorang pedagang buah. Semua pedagang menjawab seperti itu. Ada beberapa yang menyertakan kata maaf.
Merasa penasaran terus mengiringi pencarian pengurus pasar yang dimaksud. Ternyata ia adalah pedagang burung bernama Satimin. Ketika ditemui di kiosnya, Satimin sedang duduk bersama Ketua Ketua Forum Komunikasi Pedagang kaki Lima Jakarta Selatan Saali.
"Relokasi? Begini mas, (relokasi itu) belum tentu, karena tempatnya belum ada," kata Saali. Menurutnya, kalau mau dipindah pasti ada musyararah antara pemda dengan para pedagang. Sampai saat ini, tambahnya, belum ada undangan dari pemda untuk rencana relokasi tersebut.
"Tadi saya bertemu dengan gubernur (Fauzi Bowo) dan katanya belum ada rencana untuk relokasi karena tempatnya belum ada," kata Saali yang juga bertemu Foke dalam peresmian Taman Ayodia, Jakarta, Minggu (15/3).
Saali berpendapat bahwa para pedagang tidak berani berkomentar soal relokasi, karena mereka belum mendengar hal tersebut. "Kami aja tahu akan hal itu dari koran," kata Saali.
Tapi bagaimana kalau relokasi itu benar-benar dilaksanakan?
"Para pedagang di sini sadar bahwa ini bukan tempat seumur hidup. Tapi kalau mau dipindahkan tolong tempatnya yang sesuai," kata Satimin. Khusus untuk pedagang burung, tempat sesuai yang dimaksud adalah tempat yang kondusif bagi burung.
"Burung memerlukan tempat terbuka, tidak kehujanan, tidak kepanasan, udara lancar, banyak pohon seperti di tempat ini," kata Satimin. Maka ia menilai, tempat seperti Mall, P.D. Pasar Jaya, atau pasar inpres tidak cocok untuk burung. Unggas itu akan cepat mati.
"Menurut isu yang beredar tempat relokasi yang sudah disiapkan adalah Cibubur. Sumbernya dari wakil gubernur. Saya baca di koran," kata Satimin.
Jika memang di Cibubur, kata Satimin, tempatnya sangat jauh dan terlalu pinggiran. "Lah di sini saja (yang dinilai strategis), seminggu-dua minggu belum tentu laku, apalagi di sana , belum biaya transportasinya," kata Satimin.
Pedagang Pasrah
Walau sebagaian besar pedagang tidak bersedia memberi keterangan, tetapi ada juga yang secara terbuka menanggapi isu relokasi ini. Seperti Jaja.
"Saya memang tergolong baru, tahun 1990 saya memulai usaha di sini," ungkap Jaja. Ia mengaku sudah pernah mendengar isu bahwa tempatnya berusaha saat ini akan direlokasi.
Menanggapi hal itu ia hanya pasrah saja. "Lah saya ini orang kecil, mas," ungkapnya. Sekalipun, sebagaimana dikatakannya, kebijakan ini sangat berat baginya jika benar-benar dilaksanakan. Apalagi tempat relokasi yang dipilih adalah Cibubur.
"Saat ini omset turun drastis. Dulu dalam sehari bisa mendapat penghasilan kotor mencapai 5 juta, tapi sekarang dapat 500 ribu saja sudah bersyukur," kata Jaja. Keberatan itu juga terkait pengeluaran rutin untuk anaknya yang terkena talesemia. Demi kelangsungan hidup anaknya itu dalam sebulan minimal ia mengeluarkan uang Rp750 ribu.
Kepasrahan serupa diungkapkan oleh Tutut, penjual ular. "Saya pasrah saja. Mau diapakan lagi kalau sudah menjadi kebijakan," kata Tutut sembari mengelus-elus seekor ular phyton.
Ia sadar bahwa lokasi tempat ia berusaha bukan milik pribadi. "Tetapi saya tetap berharap jika dipindah ya lihat-lihat tempatnya. Mesti strategis, supaya tidak mematikan hidup pedagang," harap Tutut yang sudah berdagang di tempat itu sejak tahun 1980an.
Isu Flu Burung
Salah satu alasan, sebagaimana diakui Saali, yang diluncurkan Pemda DKI untuk merelokasi Pasar Burung Barito adalah menghindari risiko flu burung. Apalagi di wilayah tersebut tergolong padat penduduk. Ketika hal ini dilontarkan, secara tak terduga isu ini mendapat tentangan dari banyak pihak, tidak hanya dari pedagang tapi juga dari penduduk setempat.
"Selama dagang di Barito sejak 1982 belum ada pedagang ataupun penduduk yang kena flu burung. Burung aja gak ada yang mati. Sekalipun mati paling satu dua saja, kan wajar," kata Satimin yang langsung nyerocos ketika ditanya apakah setuju direlokasi karena alasan flu burung.
Hal senada juga diungkapkan Wahyono, pedagang burung. "Mas, kalau memang ada flu burung pastilah kami-kami (para pedangang) ini yang mati duluan. Tapi buktinya, kami sehat-sehat aja," katanya.
Apa yang diungkap para pedagang itu mendapat dukungan dari warga sekitar. Yono, seorang office boy, mengaku tidak pernah takut dengan flu burung walaupun tempat tinggalnya berseberangan dengan pasar. "Saya sudah di sini selama 3 tahun, dan tidak terjadi apa-apa seputar flu burung," kata Yono yang tinggal bersama keluarganya di kantor tempat ia bekerja.
Menurut penuturan Yono, ia tidak takut menitipkan anaknya di kios pedangan burung ketika mengantar isterinya ke rumah sakit atau di saat anaknya kerap main di sana. "Saya pun sering main ke situ kalau hari Sabtu atau Minggu," ungkap Yono saat ditemui di kantornya.
Senada dengan Yono, seorang tukang parkir bernama Edi juga tidak percaya kalau ada isu flu burung di lokasi tersebut. "Lah, yang jual burung aja ada yang tinggal di kios bersama burungnya toh tidak apa," kata Edi yang beroperasi di pertigaan Jalan Barito-Lamandau.
Untuk mendukung pernyataan lokasi Pasar Burung Barito bebas penyakit, Saali perlu menjelaskan peran pedagang dalam menjaga kebersihan. "Kami punya dua gerobak sampah dengan dua pegawai yang tiap hari menjaga kebersihan pasar ini. Kami sendiri yang secara swadaya membiayainya. Pemda tidak ikut-ikutan," kata Saali.
"Selain itu, kanjut Saali, sebagai warga RW 07 kami juga melakukan gotong royong. Siapa yang membersihkan got di seberang jalan itu? "Ya, kami waktu gotong royong. Mana mau mereka yang punya rumah gede-gede itu ikut membersihkan," ungkap Saali.
Satimin menambahkan, para pedagang secara swadaya juga membangun trotoar dan selokan di depan kios. "Coba lihat mereka (pejalan kaki) tidak kehujanan kan karena ada teras kios," kata Satimin yang saat itu sedang turun hujan deras.
Selain itu, keberadaan para pedagang ini juga memberikan rasa aman pada warga di sekitarnya. "Coba Mas lihat, apakah ada yang membayar satpam di rumah-rumah gede itu? Tiap malam kami mengadakan kata tambah Satimin. Sepengamatan Kompas.Com memang tidak ada satpam di rumah-rumah, restoran, dan kantor di depan kios pasar burung itu. Hal itu dibenarkan Yono. Setiap malam ada 7 hingga 8 pedagang yang ronda. "Mereka kerap kemari untuk minta minum atau nonton TV sebentar. Kalau tidak ada mereka, tempat ini tergolong rawan," kata Yono.
"Jadi kalau mau dipindah ya dipindah aja, gak usah pake alasan flu burung atau apa kek," kata Saali geram. Meski ada semacam kepasrahan dari para pedagang bila mereka dipindah, namun di akhir pembicaraan sebenarnya mereka memiliki harapan lain. "Penginnya kami tidak usah dipindah. Biarlah kami di sini. Kalau misalnya kami dipindah karena alasan lain, yaitu karena tidak selaras dengan kebijakan pemda untuk membangun Taman Langsat yang ada di belakang kami ini, ya biarlah kami menyesuaikan," tambah Satimin.
"Tunjukan saja kepada kami bagaimana kami mesti mengubah kios supaya selaras, kami akan melakukannya tanpa biaya pemerintah," timpal Saali. "Kami hendak mengimbau supaya rencana relokasi ini ditangguhkan dan dipikirkan lagi aja. Secara tidak langsung kami ini membantu pemda dalam mengurangi penggangguran."
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang