"Perang" Spanduk Ratusan Juta, Dapat Apa?

Kompas.com - 16/03/2009, 10:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Masa kampanye terbuka menjelang pemilihan umum calon legislatif 9 April 2009, hari ini baru mulai berlangsung. Namun, "banjir" spanduk dan pamflet yang terpampang di berbagai tempat di Jakarta sudah lama terjadi. Malah, kian hari jumlah reklame "narsis" berbagai ukuran itu pun kian banyak "mengotori" pemandangan Ibu Kota, hingga ke gang-gang sempit.

Tak tanggung-tanggung, terkadang pada satu tempat dipasang lebih dari lima calon yang berbeda. Ukurannya juga beragam, mulai ukuran kecil yang dipaku di pohon atau diikat di tiang-tiang listrik, hingga yang luar biasa besar, yang terpasang kokoh dengan fondasi permanen di jalan-jalan besar. Uang yang dihabiskan pun tentu tak sedikit karena mencapai ratusan juta rupiah.

Lantas, benarkah cara ini efektif untuk memengaruhi putusan dari pemilik hak suara? Jawaban salah satu caleg DPRD DKI Jakarta cukup mengejutkan.

Prya Ramadhani, caleg Golkar dari Dapil DKI Jakarta I, mengaku, dari sekian banyak banner yang dipasangnya di berbagai tempat, ternyata hanya diindahkan oleh sesama caleg yang jadi pesaingnya. Bukan oleh masyarakat pemilih. Kesimpulan ini didapatnya setelah melakukan survei kecil-kecilan. "Pasang spanduk, banner, baliho itu ternyata enggak efektif. Lebih efektif turun ke masyarakat. Karena ternyata, yang lihat spanduk kita itu hanya saingan sesama caleg, ha-ha-ha," ujar Prya sambil tertawa.

Ia merasa, bagi masyarakat, yang tertanam di memori hanya simbol-simbol partai, bukan individu sang caleg. Meski demikian, ayah dari artis Nia Ramadhani, ini mengaku, sudah beragam atribut yang dipasangnya di sejumlah titik yang menjadi basis daerah pemilihannya. Namun, saat menyadari bahwa reklame jalanan tak efektif, ia pun mengubah model kampanye dengan mengintensifkan dialog bersama masyarakat.

Berbeda dengan Prya, Ade Daud Nasution—politisi PAN yang bertarung di Dapil Jaksel, Jakpus, dan Luar Negeri—memang melancarkan strategi "perang" di udara, alias memasang banyak spanduk, dan banner di berbagai tempat. Tak heran, reklame bergambar wajahnya pun terlihat di mana-mana. Baginya, cara ini sangat efektif.

"Lho, banner itu atribut standar di dunia demokrasi. Lihat saja di Amerika, Australia, ramai juga dengan spanduk kalau lagi ada pemilihan. Biasa itu. Strategi saya, memang main di udara, main di darat," ujar Ade, yang sempat menjabat sebagai anggota DPR dari Fraksi Bintang Reformasi. "Cara ini (pasang banner) pasti efektif, saya tanya ke teman-teman anak saya, katanya jadi terkenal kok," ujarnya.

Namun, dikatakan Ade, model kampanye itu bukan satu-satunya. Ia juga memanfaatkan kampanye melalui pesan singkat dan bertemu langsung dengan konstituennya pada berbagai kesempatan. "Saya juga buka kantor di luar negeri, di Malaysia, pasang iklan di koran Malaysia, juga sosialisasi kapan pemilu. Sekarang, mendekati pemilu, saya pasang banner yang berisi bagaimana cara memilih yang benar," ungkapnya.

Efektifkah metode kampanye ini?

Pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia (UI) Effendi Gazali mengatakan, spanduk yang dipasang secara keroyokan alias massal, hanya akan menguntungkan bagi calon atau partai yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat. Bagi calon baru, harus butuh perjuangan ekstra agar namanya diingat pemilih.

"Kalau banner-nya rame-rame, maksudnya ngumpul dengan caleg lain, lebih untung buat orang yang sudah lebih dulu dikenal. Maka, kalau modelnya begini, harus buat banner yang unik. Biar diinget," kata Effendi.

Meski demikian, pemunculan wajah para caleg di banner yang dipasangnya, juga dinilai tak efektif. Sebab, pada surat suara, pemilih tak akan menemukan fotonya. "Nanti yang ada kan hanya namanya. Jadi pasang foto yang senyum, menampilkan wajah cantik atau gantengnya, percuma saja," ujar dia.

Pemasangan banner dalam jumlah banyak, dalam analisis Effendi, belum bisa menimbulkan efek si pemilih akan menjatuhkan suaranya pada seorang caleg. Cara ini akan efektif, jika diikuti dengan dialog pada masyarakat pemilih. "Kalau cuma berhenti di poster, atau spanduk, ya selesai. Kita lihat, pemilih punya pengalaman enggak dengan dia (caleg). Jadi tidak hanya melihat gambar," kata Effendi.

Dan yang perlu diwaspadai, pemasangan banner dengan sembarangan justru akan menimbulkan kemarahan. Simpati tak didapat, tetapi akan menuai antipati. "Jadi kalau masang itu perhatikan keindahan. Sebab, kalau orang sudah marah, kesel, karena lingkungannya jadi tidak indah, maka memorinya akan berhenti dan tidak ada yang diingat soal caleg itu," ungkap Effendi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau