Solo Kembangkan Wisata Pelayanan Kesehatan

Kompas.com - 17/03/2009, 20:30 WIB

SOLO, KOMPAS.com - Kota Solo mengembangkan wisata pelayanan kesehatan dengan menggandeng Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Kota Solo dan Rumah Sakit Islam Surakarta (RSI Yarsis). Peluncuran program ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman ketiga pihak di rumah dinas wali kota Loji Gandrung, Selasa (17/3).

Singapura dan Malaysia telah lebih dulu mengembangkan pariwisata kesehatan. Menurut Presiden Direktur RSI Yarsis M Djufrie, per tahunnya Singapura rata-rata menerima pasien dari Indonesia 370.000 orang. Sebanyak 60 persen pasien di Rumah Sakit di Penang, Malaysia juga berasal dari Indonesia, terutama dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau.

Selain mengundang pasien/turis domestik dalam negeri ke Solo, program ini juga membidik pasien dari luar negeri untuk check-up kesehatan sambil berwisata atau turis mancanegara yang datang akan ditawari periksa kesehatan. Program ini juga akan dijadikan rujukan bagi turis asing yang sedang berkunjung yang tiba-tiba sakit.

Penasihat Asita Solo Susena Hadi Parwono mengatakan, pihaknya kerap kesulitan mencari r umah sakit berstandar internasional jika ada turis datang yang sakit tiba-tiba. Kami sering hanya membawanya ke dokter hotel yang menurut tamu standarnya belum diketahui, kata Suseno.

Untuk tahap awal, pelayanan ini menjual check-up medis yang dibagi dalam tiga program. Tiap program dibuat selama tiga hari dua malam, masing-masing untuk satu pasien dan satu pendamping. Harga nya mulai Rp 1,9 juta hingga Rp 5 juta dengan tempat menginap dari rumah sakit hingga hotel bintang lima. Malam hari usai check-up pasien makan malam di Padepokan Gedhong Putih dengan sajian atraksi budaya.

Ini bukan masalah merebut potensi pasien dalam negeri yang lari ke luar negeri tetapi terutama menegakkan martabat pelayanan kesehatan dalam negeri. Kalau untuk masalah kesehatan sederhana saja, orang lari ke Singapura dan Malaysia, bagaimana martabat pelayanan kesehatan dalam negeri, kata Djufrie.

Untuk menawarkan wisata kesehatan, RSI Yarsis, menurut Djufrie, sudah punya modal memadai, antara lain terakreditasi oleh Temos (telemedicine for the mobile society) yang berpusat di Jerman, terhubung dengan jaringan asuransi yang menjamin turi s di seluruh dunia, menjadi sister hospital dari Rumah Sakit Amphia di Breda, Belanda, dan memiliki peralatan medis memadai seperti alat CT scan 16 slice.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau