JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Rabu (18/3) pagi, turun, tetapi posisinya dinilai masih aman akibat ketatnya pengawasan Bank Indonesia terhadap bank-bank asing yang bermain valuta asing.
"Posisi rupiah masih aman dan berada di bawah angka Rp 12.000 per dollar yang terjadi sejak akhir pekan lalu. Meski saat ini turun, tapi tidak perlu dikhawatirkan," kata Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk Kostaman Thayib di Jakarta, Rabu.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menjadi Rp 11.970/11.985 per dollar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 11.960/11.975 atau turun 10 poin.
Kostaman mengatakan, rupiah seharusnya bisa bergerak naik kalau melihat dollar di pasar regional melemah terhadap euro. Masalahnya, pasar uang domestik memang agak berbeda. "Sekalipun ada isu positif, rupiah justru terpuruk dan sebalik tidak ada isu malah menguat. Hal ini semua tergantung dari persediaan dan permintaan pasar," katanya.
Rupiah, menurut dia, sulit untuk bisa menguat menjauhi angka Rp 12.000 per dollar. Apalagi, tekanan krisis global semakin berat dan pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan hanya 4 persen. "Hal ini menyebabkan pelaku pasar khawatir dengan isu bahwa Amerika Serikat akan menarik mata uangnya di pasar dunia untuk mendukung paket stimulus sektor keuangan dengan menerbitkan obligasi," katanya.
Ia mengatakan, posisi rupiah yang saat ini masih di bawah level itu, terutama disebabkan pasar Indonesia masih tetap menarik yang mendorong investasi asing juga mengalir ke pasar domestik itu.
Investasi asing masih terjadi terutama dari kawasan Timur Tengah seperti Qtel yang meningkatkan pemilikan sahamnya di Indosat. "Indonesia sampai saat ini masih merupakan pasar investasi nomor tiga di dunia, selain China dan India," katanya.
Kostaman juga mengatakan, rupiah pada sore nanti diperkirakan masih berada di bawah angka batas psikologis karena tekanan pasar tidak cenderung membesar karena sebagian pelaku utama menunggu hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di Washington. "Akibatnya, aktivitas pasar agak lesu, meski didominasi aksi beli dollar dalam jumlah yang relatif tidak besar," ucapnya.
Meski demikian, lanjut dia, ke depan peluang rupiah untuk menguat dan menjauhi angka Rp 12.000 per dollar masih ada.
Apalagi, dana pengusaha lokal yang berada di luar negeri menjelang pemilihan umum masuk ke pasar domestik. "Masuknya dana lokal itu karena para pengusaha Indonesia mempunyai kepentingan dalam pelaksanaan pemilihan umum," ucapnya.