PDI-P Ungkap Indikasi Manipulasi DPT Pemilu

Kompas.com - 18/03/2009, 13:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — PDI Perjuangan mengungkapkan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus menindaklanjuti indikasi manipulasi daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu Legislatif 2009Berdasarkan penelusuran, ditemukan manipulasi di salah satu dapil yang meliputi Ngawi, Trenggalek, Magetan, dan Pacitan.

Sekjen PDI Perjuangan Pramono Anung mengatakan, modus manipulasi adalah memasukkan data fiktif dalam DPT Pemilu Legislatif 2009. "Soal DPT, kami mempelajari setelah kasus di Sampang dan Bangkalan (Pilkada Jatim) upaya untuk melakukan manipulasi DPT masih terjadi. Kami temukan ada upaya melakukan penggelembungan dan manipulasi dari data yang ada," kata Pramono dalam keterangan persnya di kediaman Megawati di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (18/3). 

Sebagai contoh, Pramono menjabarkan, setelah dilakukan penelusuran, di Trenggalek dengan jumlah kasus 6115, terdapat nomor induk kependudukan (NIK) yang digandakan sebanyak 16.644. Contoh temuan lainnya, seorang pemilih di TPS 3 Desa Ngulung Wetan, dengan nama Tukiyat, NIK 3503022408570001, beralamat di Trenggalek telah digandakan sebanyak 4 kali dan ditempatkan di nomor urut 288, 295, 293, dan 300.

Selain itu, juga ditemukan nama-nama pemilik NIK yang sama, tetapi berbeda tempat tanggal lahir dan alamatnya. "Ditemukan pula pemilih yang umurnya di bawah 17 tahun dan belum menikah. Bahkan, di beberapa DPT ditemukan nama-nama pemilih yang umurnya di bawah 15 tahun dan belum menikah," ungkap Pramono.

Dia berharap KPU bisa memperbaiki DPT yang ada setelah ditemukannya indikasi kecurangan dan manipulasi. "Kalau dibiarkan membahayakan kehidupan demokrasi," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau