AL Sri Lanka Selamatkan 640 Warga Sipil

Kompas.com - 19/03/2009, 01:09 WIB

KOLOMBO, KOMPAS.com - Angkatan Laut Sri Lanka menyelamatkan lebih dari 640 orang yang meninggalkan zona perang di negara pulau itu menggunakan kapal-kapal kecil. Sementara, gerilyawan Macan Tamil memberondongkan tembakan ke arah mereka, kata militer, Rabu (18/3). Namun, puluhan ribu warga sipil masih terperangkap di daerah konflik.
      
Militer Sri Lanka mengepung gerilyawan Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE) di zona yang hanya 28 kilometer persegi di kawasan timurlaut negara pulau itu dan berusaha mengakhiri pemberontakan separatis mereka yang telah berlangsung lebih dari 25 tahun.
      
Sedikitnya 18 pemberontak tewas dalam pertempuran terakhir di zona perang yang kian menyusut, kata seorang pejabat militer, Rabu.
      
Badan anak PBB UNICEF mengatakan ratusan anak termasuk di antara 2.800 warga sipil yang tewas dalam pertempuran-pertempuran sejauh ini. UNICEF mengingatkan bahwa lebih banyak orang lagi terancam bahaya. Pemerintah menyebut angka itu belum terbukti kebenarannya.
      
PBB mengatakan pekan lalu, Macan Tamil menahan dengan paksa ribuan orang di dalam zona perang dan memaksa mereka berperang atau membuat pertahanan.
      
LTTE menyatakan, orang-orang itu tinggal di sana atas kehendak mereka sendiri. Hampir 44.000 orang pergi dari daerah konflik sepanjang tahun ini, 5.000 orang diantaranya sejak Sabtu.
      
Pada Rabu, 643 orang yang menggunakan 35 kapal kecil meninggalkan sebuah zona bebas tembakan setelah pasukan AL memburu kapal-kapal LTTE yang melepaskan tembakan ke arah mereka, kata jurubicara militer Brigjen Udaya Nanayakkara. Macan Tamil belum bisa dihubungi untuk diminta komentar mereka mengenai hal itu.
      
Nanayakkara mengatakan, pasukan telah menemukan mayat 18 gerilyawan Macan Tamil pada Selasa, dan pertempuran berkobar lagi Rabu.
      
Badan bantuan kemanusiaan CARE mengatakan, salah seorang pekerjanya tewas pada Selasa di zona bebas tembakan.
      
Sejumlah analis mengatakan bahwa Macan Tamil semakin mendekati kekalahan dan perang akan segera berakhir.
      
Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa telah mengingatkan pemberontak Macan Tamil agar menyerah tanpa syarat atau dibunuh. "Mereka (Macan Tamil) harus mengizinkan warga sipil pergi dan kemudian menyerah tanpa syarat," kata Rajapaksa.
      
Militer telah mencapai serangkaian kemenangan, termasuk merebut kembali Kilinochchi, yang diklaim LTTE sebagai ibu kota mereka, dan mengusir pemberontak tersebut dari Semenanjung Jaffna.
      
Pertempuran antara pasukan pemerintah dan pemberontak LTTE meningkat sejak pemerintah secara resmi menarik diri dari gencatan senjata enam tahun pada Januari 2008.
      
Pembuktian independen mengenai klaim-klaim jumlah korban mustahil dilakukan karena pemerintah Kolombo melarang wartawan pergi ke zona-zona pertempuran.
      
Lebih dari 70.000 orang tewas dalam konflik separatis panjang di Sri Lanka itu sejak 1972.Sekitar 15.000 pemberontak Tamil memerangi pemerintah Sri Lanka dalam konflik etnik itu dalam upaya mendirikan sebuah negara Tamil merdeka.
      
Masyarakat Tamil mencapai sekitar 18 persen dari penduduk Sri Lanka yang berjumlah 19,2 juta orang dan mereka terpusat di provinsi-provinsi utara dan timur yang dikuasai pemberontak.
      
Macan Tamil masuk dalam daftar teroris yang dikeluarkan AS, Uni Eropa, Kanada dan India, antara lain karena kelompok gerilya itu melancarkan serangan-serangan bom bunuh diri selama perang saudara tersebut.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau