Menciptakan Harmoni di Kawasan Properti

Kompas.com - 19/03/2009, 15:06 WIB

KOMPAS.com - Di kanan kiri trotoar terdapat gedung-gedung dengan langgam khas Jepang. Tidak banyak ornamen, tetapi banyak bermain mozaik dan simbol. Gedungnya dominan berbentuk bangunan kotak-kotak. Sebagian dengan gaya atraktif seperti tampak di kawasan Ginza yang bangunannya dimiring-miringkan, atau yang dindingnya penuh lubang. Lalu lubang-lubang itu ditutup kaca. Jadilah dinding gedung yang sangat istimewa dan hemat energi. Pemilik gedung tidak perlu meenggunakan banyak lampu.

Ada pula gedung-gedung yang khusus dibangun untuk menjadi ruang pamer merek-merek elit seperti LV, Prada, Hugo Boss, Salvatore Ferragamo, Ermenegildo Zegna dan sebagainya. Rata-rata berlantai delapan, gedung-gedung khusus itu umumnya dikitari taman, panggung kecil yang terbuat dari kayu (mirip kayu ulin), lalu tempat duduk yang terbuat dari marmer hitam. Bukan main Jepang ini, toko-tokonya selalu dikitari dengan aneka kembang, dan arena publik yang nyaman.

Gedung-gedung niaga, juga gedung-gedung perkantoran, berdampingan secara damai dan serasi dengan rumah-rumah warga. Tidak jelas, apakah gedung kantor atau toko-toko yang menyesuaikan diri, atau rumah-rumah penduduk yang menyesuaikan diri dengan gedung-gedung niaga. Yang jelas tampak di permukaan, otoritas Kota Tokyo mampu menjaga harmoni bangunan.

Hal yang menawan, di tiap jalan-jalan besar, selalu diapit lorong (gang) yang sungguh luar biasa. Lorong itu sih biasa saja, ada yang buntu dan ada yang menembus ke jalan lain. Yang membedakan lorong itu dengan lorong di negara lain termasuk di China, Hongkong, Singapura dan Indonesia ialah suasananya. Lorong di Jepang selalu amat sangat bersih. Tak ada selokan mampat, tak ada aroma tinja, tak ada tumpahan minyak (seperti banyak ditemui di China dan Hongkong), tak ada warga berpakaian tak sopan hilir mudik, tak ada pedagang kaki lima. Yang ada, rumah yang sederhana tetapi rapi dan bersih. Selokannya nyaris tak berair sebab selalu mengalir ke saluran induk. Tepian rumah warga dihiasi dengan kembang aneka warna yang wangi.

Di antara lorong-lorong itulah, kerap bisa didapati toko-toko khusus. Ada yang khusus menjual sepatu, khusus alat musik, garmen, pakaian khusus artis film dan sebagainya. Pengunjungnya tidak banyak, tetapi toko-toko ini sudah mempunyai pelanggan setia, sehingga bisa bertahan hidup kendati harga sewa gerai di Tokyo enam kali lebih mahal dibanding di Jakarta. Pemilik toko mengandalkan pelanggan yang puas untuk bercerita kepada calon konsumen Iainnya. Begitu seterusnya. Cara lain dengan menyewa orang, berteriak lirih di tepi lorong sambil menawarkan aneka komoditas yang diperdagangkan. Lucu juga cara orang Jepang ini menawarkan barang

Eksekutif Grup Agung Podomoro Veri YS yang bersama-sama Kompas dan ahli desain Toto keliling Jepang baru-baru ini menyatakan, ia kagum pada keserasian yang tercipta di Tokyo. Semua pedagang hidup berdampingan penuh damai dengan warga. Corak bangunan pun saling menyesuaikan dan saling melengkapi.

"Tidak ada pemandangan yang merusak pandang mata," kata Veri. "Semua serba harmonis." Veri menyatakan bisa belajar banyak dari Tokyo yang sangat fokus dan melakukan segala sesuatu serba terencana. Veri juga terkesan pada restoran-restoran Jepang yang dibangun secara sederhana tetapi bersih, tertata, dan atraktif. Duduk di restoran terasa nyaman. Koki memanggang daging dan kepulan asap tak terelakkan. Akan tetapi pengunjung sama sekali tidak terganggu asap. Pakaian tetap oke, tidak bau asap. Ini berbeda dengan sejumlah restoran di Jakarta. Baju pengunjung ikut dalam aroma asap. Suka tidak suka, balik ke kantor mesti mandi dan ganti baju.

Jepang, khususnya Tokyo bukan segala-galanya. Bukan pula yang nomor satu di dunia. Namun kita layak memberi apresiasi karena kota ini konsisten menjaga harmoni sejak ratusan tahun silam. Tokyo jarang berceloteh tentang kotanya. Tetapi pengunjung Tokyo bisa melihat sendiri betapa bersih dan sejuk kota berpenduduk 15 juta jiwa ini.

Para pengembang Indonesia kiranya perlu membuat proyek - proyek yang benar-benar pro lingkungan, pro harmoni bangunan dan menyejukkan. Masih banyak pengembang yang tidak mau tahu persoalan lingkungan, pokoknya untung. Banjir atau perumahan gersang, urusan warga, bukan pengembang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau