Kesehatan

Pengendalian Tembakau Positif bagi Ekonomi

Kompas.com - 20/03/2009, 04:05 WIB

Jakarta, Kompas - Meski mempunyai kontribusi signifikan dalam pembahasan Konvensi Kerangka untuk Pengendalian Tembakau (FCTC), Pemerintah Indonesia masih belum meratifikasi konvensi itu. Padahal, 20 negara lain yang juga terlibat aktif kini semua sudah meratifikasinya.

Saat ini, ada 164 negara yang meratifikasi FCTC dari 168 negara yang menandatanganinya. ”Pemerintah Indonesia justru menganggap FCTC akan menutup industri tembakau. Ini klaim yang tidak terbukti, ” kata pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, dalam siaran pers YLKI dan Forum Parlemen Indonesia, Kamis (19/3) di Jakarta.

Hal ini dipicu ketidakmengertian pemerintah terhadap substansi kerangka konvensi itu atau mendapat tekanan dari industri rokok. Sebagai produk hukum, FCTC dibuat dengan sangat partisipatif, khususnya oleh negara- negara yang mempunyai masalah dengan tembakau.

Di Indonesia, setiap hari tidak kurang dari 1.172 orang meninggal karena penyakit akibat rokok. Berdasarkan fakta itu, Pemerintah Indonesia saat ini nyaris tidak ada keberpihakan dengan pengendalian tembakau.

Bandingkan dengan China dan India yang masalah tembakaunya lebih berat. Di India yang merupakan penghasil dan konsumen tembakau terbesar kedua di dunia tak satu pun iklan rokok di media.

Tuti Soeroko dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia menambahkan, FCTC adalah instrumen paling ideal untuk menyelesaikan problem tembakau di suatu negara. ”Jadi, FCTC bukan untuk mematikan industri tembakau. Pengendalian tembakau justru sangat positif bagi pertumbuhan ekonomi makro maupun sektor industri tembakau itu sendiri,” katanya.

Klaim bahwa industri rokok memberi kontribusi dominan juga tidak terbukti. ”Industri tembakau bukan penyerap terbesar tenaga kerja terbesar di tingkat nasional,” kata Abdillah Ahsan dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia.

Menurut analisis data Badan Pusat Statistik, industri tembakau hanya menduduki urutan ke-48 dari 66 sektor yang berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja. (EVY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau