Ketua KPU Kabupaten Sampang Dimintai Klarifikasi di Depan Kapolri

Kompas.com - 20/03/2009, 13:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Siang ini, Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary dijadwalkan bertemu dengan Kapolri dan Ketua KPU Kabupaten Sampang di Mabes Polri untuk mengklarifikasi data DPT Jawa Timur yang masih diragukan. Hal tersebut dilakukan KPU untuk memastikan benar tidaknya data tersebut.

Sejauh ini, KPU mensinyalir Daftar Pemilih Tetap (DPT) versi lima parpol yang tergabung dalam Poros Penegak Kebenaran salah. Indikasi itu muncul setelah membandingkan DPT versi parpol untuk Kabupaten Sampang, Jawa Timur, dengan data Administrasi Kependudukan Depdagri.

Menurut Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary, KPU menemukan tiga nama yang sama di DPT versi parpol tersebut dan data Adminduk, tetapi ternyata memiliki nomor identitas kartu yang berbeda. "Kalau benar beda, itu (data parpol) kan tidak tepat," ujar Hafiz di Kantor KPU, Jumat (20/3).

Tiga nama sama yang ditemukan di DPT versi parpol atas nama Sumroh. Namun setelah dicek, data Adminduk memuat NIK dan alamat yang berbeda dari nama-nama tersebut. Hafiz menyimpulkan mereka adalah orang-orang yang berbeda.

Sebelumnya, Hafiz belum mengatakan percaya dengan DPT versi parpol sebelum membandingkan DPT tersebut dengan data Adminduk dan DPT milik KPU Kabupaten Sampang. "Jadi bisa tahu, benar tidak data itu yang dipakai dalam pilgub Jawa Timur waktu itu," tutur Hafiz.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau