Mega Tunggu Telepon dari SBY?

Kompas.com - 20/03/2009, 18:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Para pemimpin partai makin rajin melakukan pertemuan. Namun, sampai saat ini SBY-Mega belum bertemu. Banyak yang bertanya ada indikasi apa di antara keduanya? Apakah kedunya mengalami perang dingin? 

Menanggapi hal tersebut, Sabam Sirait, anggota DPR RI dari PDI Perjuangan yang dikenal dekat dengan Mega, mengatakan, sebenarnya hubungan SBY-Mega baik. "Kalau hubungan mereka tidak baik, dulu setelah SBY diberhentikan oleh Gus Dur, Mega tidak akan mengangkat dia jadi Menko Polkam," kata Sabam di Jakarta, Jumat (20/3).

Sabam pernah bertanya kepada Mega mengenai hal itu. Waktu itu Ibu Mega bilang, dari dulu sampai sekarang nomor teleponnya tidak berubah dan SBY tahu nomor Mega. "Tapi sampai sekarang SBY belum menelepon," ujar Sabam.

Politisi senior PDI-P ini juga meceritakan, ada dua orang yang dekat dengan SBY, salah satunya adalah menteri dan yang seorang lagi adalah pengusaha, melihat SBY-Mega perlu bertemu.

"Dua minggu yang lalu ke dua orang terebut, melihat pentingnya ada pertemuan SBY-Mega, saya bilang kepada mereka, SBY supaya menghubungi Mega. Namun, dua jam sebelum menelepon Ibu Mega, saya dikasih tahu dulu," terang Sabam. 

Ternyata, sampai saat ini ia belum dihubungi oleh kedua orang dekat SBY tersebut. "Mungkin dua-duanya sama-sama menunggu atau sama-sama tidak sempat," ujarnya. 

Sabam juga menanyakan, jika SBY-Mega bertemu agenda apa yang akan dibahas? "Sekadar minum teh? Membicarakan tentang koalisi? Atau pembicaraan cara menyukseskan pemilu?" tanya Sabam. 

Ia juga menambahkan, setelah 4,5 tahun berkuasa, mengapa sekarang baru ada keinginan untuk bertemu. "Kan ada cara lain, JK saja waktu Lebaran datang ke rumah Ibu Mega," ujar Sabam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau