Manipulasi DPT, Perlukah Pemilu Ditunda?

Kompas.com - 21/03/2009, 09:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Indikasi adanya manipulasi daftar pemilu tetap (DPT) di tiga kabupaten di Jawa Timur menimbulkan polemik baru menjelang pemilu. Sejumlah pihak mendesak KPU untuk menjelaskan dugaan tersebut. Bahkan, yang lebih ekstrem mewacanakan penundaan pemilu jika data DPT tak 'dibersihkan'. Perlukah penundaan pemilu?

Direktur Eksekutif Centre for Electoral Reform (Cetro) Hadar Nafis Gumay berpendapat, masih ada hal yang bisa dikerjakan KPU untuk menuntaskan dugaan itu, daripada langsung mendesakkan penundaan pemilu. Menurutnya, waktu yang tersedia masih memungkinkan bagi KPU untuk menelisik ulang data pemilih ganda.

"Saat ini, kepercayaan yang perlu kita bangun. Yang mana data yang busuk, kita pilah. Masih ada waktu untuk melakukan itu. Sebab, risiko pemilu ditunda itu sangat luar biasa. Jadi, mari desak KPU untuk membersihkan DPT itu," papar Hadar, pada diskusi "Manipulasi DPT dan Nasib Pemilu", di Jakarta, Sabtu (21/3).

Pembersihan DPT, dikatakan Hadar, masih memungkinkan karena data tersebut tersimpan dalam bentuk soft file. Koreksi tersebut harus selesai sebelum surat suara diturunkan ke TPS.

Pendapat yang hampir sama juga diungkapkan pakar hukum tata negara, Irman Putra Sidin. Irman mengatakan, hal mendesak yang dilakukan adalah perbaikan DPT.

"Bukan pada penundaan pemilu, tapi cari siapa orang-orang yang melakukan itu. Daripada pemilu disuruh mundur, mending penyelenggara pemilu yang disuruh mundur," ujar Irman.

Risiko penundaan pemilu, diuraikan Irman, akan membawa risiko yang sangat besar mengingat masa jabatan anggota dewan dan presiden/wakil presiden akan segera berakhir. "Kalau ditunda, bisa demisioner republik ini, tidak ada pemerintahan," katanya.

Ketua Pedoman Indonesia, Fadjroel Rachman, berpendapat sebaliknya. Pemilu pada tanggal 9 April, menurutnya, harus ditunda. Persoalan manipulasi DPT, dinilai sebagai indikasi kecurangan yang luar biasa.

"Jawa Timur yang provinsinya besar saja, DPT-nya busuk. Kalau DPT busuk, akan menghasilkan DPR busuk. Ini berkaitan dengan moral, jadi pemilu ditunda saja, sampai DPT-nya tidak busuk," kata Fadjroel.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau