JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, sejak pekan lalu hingga hari ini terus bergerak naik mendekati Rp 11.700 per dollar AS karena pelaku masih membeli mata uang Indonesia.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, Senin (23/3) pagi, menguat menjadi Rp 11.750/11.760 per dollar dibanding penutupan hari sebelumnya, Rp 11.785/11.790 per dollar atau naik 35 poin.
Pengamat pasar uang Farial Anwar di Jakarta mengatakan, para pelaku pasar kembali membeli rupiah sambil menunggu bank sentral AS (The Fed) membeli obligasi Pemerintah AS pada hari ini. "The Fed berencana membeli obligasi yang diterbitkan pemerintah sebesar 300 miliar dollar AS," ucapnya.
Menurut dia, bila pembelian obligasi itu dilakukan, maka pasar AS akan kembali menekan mata uang Uwak Sam itu terkoreksi. "Dollar AS pada pekan lalu cenderung tertekan pasar setelah adanya rencana The Fed untuk membeli obligasi itu," ucapnya.
Ia mengatakan, para pelaku pasar semula memperkirakan rupiah akan merosot tajam karena Pemerintah AS secara besar-besaran akan menarik mata uangnya di pasar dunia untuk mendanai paket stimulus sektor keuangan. "Penarikan dollar itu dilakukan dengan menerbitkan obligasi yang cukup besar tertahan oleh rencana The Fed yang akan membeli obligasi itu," ucapnya.
Rupiah, menurut dia, kemungkinan kembali menguat karena sentimen positif pasar masih berlanjut sampai saat ini. "Mata uang Indonesia diperkirakan akan bisa mendekati angka Rp 11.500 per dollar AS, apabila kondisi pasar seperti itu masih terjadi," ucapnya.
Ia mengatakan, posisi rupiah saat ini dinilai sangat baik, namun kenaikannya diharapkan tidak terlalu cepat karena Bank Indonesia (BI) harus menjaga. "BI harus menahan laju kenaikan rupiah apabila ada faktor negatif sehingga penurunannya tidak begitu tajam," ucapnya.