JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) mendorong pelaku ekspor dan impor untuk memanfaatkan fasilitas Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dan menggunakan Renmimbi dalam transaksi internasional.
"Selama ini, pelaku pasar menggunakan dollar AS untuk transaksi internasional. Diharapkan kedepan bisa menggunakan fasilitas Renmimbi. Dengan ini permintaan dollar AS bisa menyusut," kata Gubernur BI Boediono, saat jumpa pers, di gedung BI, Jakarta, Selasa (24/3).
Boediono memaparkan pada tahun 2008, ekspor Indonesia ke Cina mencapai 11,5 miliar dollar AS sedangkan impor Cina ke Indonesia mencapai 15,2 miliar dollar AS. "Dari jumlah itu, perdagangan migas, banyak transaksi didominasi oleh dollar AS. Ketergantungan terhadap dollar AS jadi besar," ujarnya.
Sedangkan untuk ekspor non migas dari Indonesia ke Cina tahn 2008 mencapai 7,77 miliar dollar AS. Dan impor dari Cina ke Indonesia mencapai 14,99 miliar dollar AS. "Untuk ekspor non migas, yang paling besar adalah minyak sawit, kertas, produk kimia, dan batubara. Sedangkan Impor terbesar itu non migas," tuturnya.
Lebih jauh Boediono mengatakan akan menyosialisasikan hal ini dengan pelaku pasar. Selain itu, menurut Boediono,investor dari Cina yang akan menanamkan modalnya di Indonesia juga dapat menggunakan fasilitas ini, Demikian juga sebaliknya dengan investor dari Indonesia ke Cina. "Ke depan, kalau ada investasi dari Cina ke sini begitu juga sebaliknya seharusnya tidak menggantungkan pada mata uang dollar AS," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang