JK Minta Pemilu Tak Ditunda

Kompas.com - 24/03/2009, 22:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla meminta agar pemilu legislatif 9 April mendatang tidak ditunda. Pasalnya, jika pemilu ditunda akan menimbulkan masalah baru. Apalagi dalam pelaksanaan pemilu sudah ada Komisi Pemilihan Umum (KPU). Demikian pula pengawasan pemilu juga sudah ada Panitia Pengawas Pemilu. 

"Soal kepercayaan dalam pelaksanaan pemilu memang penting. Namun, itu tanggung jawab KPU dan Panitia Pengawas Pemilu yang harus bersikap independen," ujar Kalla, saat ditanya Kompas di Istana Wapres, Jakarta, Selasa (24/3) sore.

Menurut Kalla, jika masih ada masalah, Mahkamah Konstitusi (MK) juga akan mengadili perkara tersebut. Namun, sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, Kalla telah menginstruksikan seluruh Dewan Pimpinan Daerah  (DPD) untuk  memeriksa kembali daftar pemilih tetap (DPT) di seluruh daerah.

"Kita minta DPD Partai Golkar  untuk memeriksanya kembali DPT. Karena, merekalah yang paling tahu DPT," tambah Kalla.

Dikatakan Kalla, untuk menghindari segala kemungkinan, ada baiknya memang DPT diperiksa kembali. "Bahkan, para saksi Partai Golkar dalam pemilu juga akan ditatar kembali untuk bisa memeriksa data-data yang ada dan juga memeriksa cap tinta yang telah dioleskan agar tidak terjadi pemilih yang dua kali menjalankan haknya," demikian Kalla.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau