Keracunan Pascapawai Ogoh-ogoh

Kompas.com - 25/03/2009, 19:31 WIB

MATARAM, KOMPAS.com — Puluhan warga Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (25/3), petang tadi, terpaksa dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit karena keracunan makanan pascapawai ogoh-ogoh (boneka raksasa dengan wajah menyeramkan) di Jalan Pejanggik, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr I Gede Ketu Lania, yang melakukan pemantauan di Puskesmas Tanjung Karang, mengatakan, jumlah warga yang keracunan makanan itu sebanyak 41 orang. Sebanyak 25 orang dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mataram, sembilan orang di Puskesmas Tanjung Karang, sisanya dibawa ke RS Bhayangkara Polda NTB.

"Saya sudah terjunkan tim pendataan dan terdata 41 orang yang keracunan makanan karena mengkonsumsi nasi bungkus saat pelaksanaan pawai ogoh-ogoh," ujarnya.

Lania pun memastikan hanya 41 orang dari ribuan orang yang mengikuti pawai ogoh-ogoh itu yang keracunan makanan karena mengonsumsi nasi bungkus yang disediakan.

Nasi bungkus itu bersumber dari peserta pawai ogoh-ogoh di Batu Dawa, Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, yang diduga cukup lama dibungkus sehingga terkontaminasi bakteri intoxikasi.

Dokter jaga Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Mataram, dr Susi Wirayati, mengatakan, pihaknya langsung menempuh penanganan darurat ketika pasien keracunan makanan itu di rumah sakit itu. "Kami infus pasiennya, beri injeksi untuk mengurangi kadar asam lambung dan beberapa menit kemudian terlihat perubahan, pasiennya cenderung merasa lega," ujarnya.

Menurut Susi, puluhan pasien keracunan makanan itu masih harus menjalani perawatan observasi dalam 2 x 24 jam untuk memastikan dampak intoxikasi makanan itu. 

"Karena mereka pusing dan mual-mual, maka diduga akibat intoxikasi makanan, tetapi harus tetap diobservasi selama 2 x 24 jam, kalau mengalami kemajuan dapat dipulangkan ke rumah masing-masing," ujarnya.

Salah seorang pasien keracunana makanan yang ditemui di ruang IGD RSUD Mataram, Syaiful Hak (15), mengaku sempat pusing dan mual-mual sehingga dilarikan ke rumah sakit.

Pelajar SLTP yang berdomisili di Clinaya Indah, Kecamatan Cakranegara, itu ikut bersama teman-temannya yang beragama Hindu untuk mengikui pawai ogoh-ogoh dan sempat diberi nasi bungkus untuk dimakan sebelum pawai berlangsung.

"Saya makan nasi itu sekitar pukul 13.30 Wita, rasa pusing dan mual-mual baru terasa sekitar jam 4 sore (16.00 Wita). Nasi itu ada telurnya, tahu, ikan, dan sayur," ujar Syaiful yang didampingi ayahnya, Mulyadi.

Pawai ogoh-ogoh merupakan ritual keagamaan umat Hindu yang digelar sehari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1931 tanggal 26 Maret 2009. 

Peserta pawai ogoh-ogoh dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak sekolah itu berkelompok untuk mengusung dan mengarak ogoh-ogoh yang diwarnai dengan aksi-aksi berputar sebagai bagian dari upaya menyemarakkan tradisi pawai ogoh-ogoh.   

Ogoh-ogoh dibuat dengan beragam bentuk menyeramkan kira-kira setinggi dua hingga tiga meter dengan menghabiskan dana sekitar Rp 1,5-Rp 2 juta per unit dengan waktu pembuatan kurang lebih dua minggu.

Tradisi ritual pawai ogoh-ogoh itu bermakna mengusir roh-roh jahat agar tidak mengganggu kehidupan manusia, sekaligus menyeimbangkan bhuwana alit dan bhuwana agung (alam mikrokosmos dan makrokosmos).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau