"Ya Allah, di Manakah Anakku..."

Kompas.com - 27/03/2009, 14:15 WIB

KOMPAS.com — "Adakah yang melihat anak saya? Tahu Syamsul tidak? Adakah yang tahu di mana penghuni kontrakan situ?" tanya seorang bapak dengan nada panik di sebuah Posko Dompet Duafa di daerah longsor Danau Situ Ginting, Jumat (27/3).

Bapak itu adalah Mansyur (55), warga Pamulang, Ciputat. Gurat-gurat di wajahnya semakin tampak karena panik belum bertemu dengan anak, menantu, dan cucu tercinta. Alisnya turun, matanya merah, dan bibirnya gemetar menahan tangis.

Sesekali kedua telapak tangannya mengusap muka dan berkata, "Ya Allah... di manakah anakku." Telapak tangannya pun turun ke dada dan mengusapnya. Matanya terpejam, bibir lelaki tua itu kembali bergetar.

Sang istri sigap menahan tubuh suaminya yang limbung. Wanita bertubuh gempal itu kemudian menitikkan air mata.

Kepada Kompas.com, Mansyur bercerita. Dia tengah mencari anaknya yang tinggal tepat di samping salah satu pintu air Danau Situ Gintung, Ciputat. "Saya bingung, di mana anak saya," ujarnya lalu menangis.

Anak Mansyur bernama Syamsul Arifin. Pria berusia 27 tahun itu tinggal di pinggir danau bersama istrinya, Reni, dan anaknya yang masih balita. "Padahal, tadi malam saya sudah pesan sama dia. Hati-hati Le (panggilan sayang untuk anak dalam bahasa Jawa). Air sudah tinggi. Tadi malam saya sempat main ke rumahnya. Waktu saya lihat, air memang sudah tinggi. Dari bibir danau, air sudah bisa diambil dengan tangan," tutur pria yang baru melangsungkan pernikahan keduanya sebulan lalu itu.

Oleh karena itu, dia mengaku terkejut saat menyaksikan berita jebolnya tanggul Danau Situ Gintung di televisi. Tak kuat memikirkan nasib anak dan cucunya, dia pun kembali menutup mata dengan kedua tangan, seraya berujar, "Ya Allah...."

Tanpa menghiraukan Kompas.com, dia kembali bertanya kepada setiap orang yang lewat di hadapannya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau