KOMPAS.com — "Adakah yang melihat anak saya? Tahu Syamsul tidak? Adakah yang tahu di mana penghuni kontrakan situ?" tanya seorang bapak dengan nada panik di sebuah Posko Dompet Duafa di daerah longsor Danau Situ Ginting, Jumat (27/3).
Bapak itu adalah Mansyur (55), warga Pamulang, Ciputat. Gurat-gurat di wajahnya semakin tampak karena panik belum bertemu dengan anak, menantu, dan cucu tercinta. Alisnya turun, matanya merah, dan bibirnya gemetar menahan tangis.
Sesekali kedua telapak tangannya mengusap muka dan berkata, "Ya Allah... di manakah anakku." Telapak tangannya pun turun ke dada dan mengusapnya. Matanya terpejam, bibir lelaki tua itu kembali bergetar.
Sang istri sigap menahan tubuh suaminya yang limbung. Wanita bertubuh gempal itu kemudian menitikkan air mata.
Kepada Kompas.com, Mansyur bercerita. Dia tengah mencari anaknya yang tinggal tepat di samping salah satu pintu air Danau Situ Gintung, Ciputat. "Saya bingung, di mana anak saya," ujarnya lalu menangis.
Anak Mansyur bernama Syamsul Arifin. Pria berusia 27 tahun itu tinggal di pinggir danau bersama istrinya, Reni, dan anaknya yang masih balita. "Padahal, tadi malam saya sudah pesan sama dia. Hati-hati Le (panggilan sayang untuk anak dalam bahasa Jawa). Air sudah tinggi. Tadi malam saya sempat main ke rumahnya. Waktu saya lihat, air memang sudah tinggi. Dari bibir danau, air sudah bisa diambil dengan tangan," tutur pria yang baru melangsungkan pernikahan keduanya sebulan lalu itu.
Oleh karena itu, dia mengaku terkejut saat menyaksikan berita jebolnya tanggul Danau Situ Gintung di televisi. Tak kuat memikirkan nasib anak dan cucunya, dia pun kembali menutup mata dengan kedua tangan, seraya berujar, "Ya Allah...."
Tanpa menghiraukan Kompas.com, dia kembali bertanya kepada setiap orang yang lewat di hadapannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang