YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Jumlah penderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), turun dari 63 kasus pada Januari menjadi 32 kasus pada Februari 2009.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Hj Siti Noor Zaenab, di Bantul, Jumat (27/3), mengatakan, secara keseluruhan jumlah kasus DBD di daerah ini juga mengalami penurunan.
"Jumlah penderita DBD pada periode Januari-Februari 2009 tercatat 95 kasus, turun dibandingkan periode sama 2008 sebanyak 136 kasus," katanya.
Dalam rapat evaluasi pemantauan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) terkait berakhirnya tugas Tim Kabupaten Pemantau PSN periode 2008-2009, ia mengatakan, pada Maret jumlah kasus DBD tercatat relatif sedikit, tercatat sepuluh orang.
Ia mengatakan, sampai saat ini wilayah kecamatan yang dinyatakan bebas DBD adalah Kecamatan Kretek, Pandak, dan Srandakan.
Menurut dia, tim Kabupaten Bantul dalam memantau PSN melibatkan petugas lintas sektoral di lapangan, dan terlaksana dengan baik.
Hal ini ditandai dengan partisipasi aktif unsur kecamatan, tim penggerak PKK kecamatan, kepala desa, kepala dusun, kepolisian, puskesmas, dan kader kesehatan dusun di lokasi pemantauan PSN.
"Kegiatan itu memperoleh tanggapan cukup baik, terlihat di wilayah kecamatan sudah ada tim pemantauan PSN," katanya.
Ia mengatakan, angka bebas jentik (ABJ) di wilayah Kabupaten Bantul mencapai 85,04 persen pada pertengahan Maret 2009. Angka ini tertinggi dibandingkan dengan perolehan ABJ pada pemantauan sebelumnya.
"Pada awal pemantauan pariode November 2008 tercatat ABJ mencapai 76,83 persen," katanya.
Menurut dia, dari hasil pemantauan jentik, ada sejumlah dusun yang memperlihatkan ABJ 100 persen, seperti Dadabong Sendangsari Pajangan, Bonggalan Srigading Sanden, Sindet Trimulyo Jetis, dan Sendangsari Terong Dlingo.
ABJ terendah di Dusun Jogonandan Triwidadi Pajangan, yaitu 50 persen dan Dusun Bandot Kidul Argorejo Sedayu 59,37 persen.
Ia menambahkan, jentik nyamuk sejauh ini masih banyak ditemui di bak kamar mandi sekitar 27 persen, WC 16 persen, dan tempayan 12 persen.
"Tempat tersebut masih perlu diwaspadai sebagai tempat potensial berkembangbiaknya nyamuk demam berdarah," katanya.
Menurut dia, beberapa masalah yang ditemukan di lapangan antara lain kebersihan lingkungan masih perlu dibenahi, seperti perilaku warga membuang sampah, kebersihan kandang ayam, dan masih terdapat beberapa rumah berlantai tanah.
"Sedangkan di wilayah Bambanglipuro dan Srandakan kebersihan secara umum masih perlu ditingkatkan dan kesadaran masyarakat dalam membudayakan PSN perlu dioptimalkan," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang