Jumlah Penderita DBD di Bantul Turun

Kompas.com - 27/03/2009, 21:49 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Jumlah penderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), turun dari 63 kasus pada Januari menjadi 32 kasus pada Februari 2009.
   
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Hj Siti Noor Zaenab, di Bantul, Jumat (27/3), mengatakan, secara keseluruhan jumlah kasus DBD di daerah ini juga mengalami penurunan.

"Jumlah penderita DBD pada periode Januari-Februari 2009 tercatat 95 kasus, turun dibandingkan periode sama  2008 sebanyak 136 kasus," katanya.

Dalam rapat evaluasi pemantauan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) terkait berakhirnya tugas Tim Kabupaten Pemantau PSN periode 2008-2009, ia mengatakan, pada Maret jumlah kasus DBD tercatat relatif sedikit, tercatat sepuluh orang.

Ia mengatakan, sampai saat ini wilayah kecamatan yang dinyatakan bebas DBD adalah Kecamatan Kretek, Pandak, dan Srandakan.

Menurut dia, tim Kabupaten Bantul dalam memantau PSN melibatkan petugas lintas sektoral di lapangan, dan terlaksana dengan baik.

Hal ini ditandai dengan partisipasi aktif unsur kecamatan, tim penggerak PKK kecamatan, kepala desa, kepala dusun, kepolisian, puskesmas, dan kader kesehatan dusun di lokasi pemantauan PSN.

"Kegiatan itu memperoleh tanggapan cukup baik, terlihat di wilayah kecamatan sudah ada tim pemantauan PSN," katanya.

Ia mengatakan, angka bebas jentik (ABJ) di wilayah Kabupaten Bantul mencapai 85,04 persen pada pertengahan Maret 2009. Angka ini tertinggi dibandingkan dengan perolehan ABJ pada pemantauan sebelumnya.

"Pada awal pemantauan pariode November 2008 tercatat ABJ  mencapai 76,83 persen," katanya.

Menurut dia, dari hasil pemantauan jentik, ada sejumlah dusun yang memperlihatkan ABJ 100 persen, seperti Dadabong Sendangsari Pajangan, Bonggalan Srigading Sanden, Sindet Trimulyo Jetis, dan Sendangsari Terong Dlingo.

ABJ terendah di Dusun Jogonandan Triwidadi Pajangan, yaitu 50 persen dan Dusun Bandot Kidul Argorejo Sedayu 59,37 persen.

Ia menambahkan, jentik nyamuk sejauh ini masih banyak ditemui di bak kamar mandi sekitar 27 persen, WC 16 persen, dan tempayan 12 persen.

"Tempat tersebut masih perlu diwaspadai sebagai tempat potensial berkembangbiaknya nyamuk demam berdarah," katanya.
 
Menurut dia, beberapa masalah yang ditemukan di lapangan antara lain kebersihan lingkungan masih perlu dibenahi, seperti perilaku warga membuang sampah, kebersihan kandang ayam, dan masih terdapat beberapa rumah berlantai tanah.

"Sedangkan di wilayah Bambanglipuro dan Srandakan kebersihan secara umum masih perlu ditingkatkan dan kesadaran masyarakat dalam membudayakan PSN perlu dioptimalkan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau