KOMPAS.com — "Pandangan matanya terlihat berbeda Kamis malam itu. Entah mengapa dia memandangku tajam," ungkap seorang pria bernama Indra (25) kepada wartawan di Kamar Mayat Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, Minggu (29/3).
Ya, warga Pamulang, Ciputat, Tangerang, itu sedang mengingat sosok Pungky Andela (25), mahasiswi Universitas Trisakti, Jakarta. Pungky adalah kawan yang diantarkannya ke sebuah rumah yang ambruk karena diterjang air Situ Gintung, Jumat pagi.
Kamis malam itu, Indra mengantar Pungky ke rumah tetangganya di Situ Gintung. Maklum, lanjut Indra, malam itu hujan deras dan Pungky takut tidur sendiri di tempat kosnya. "Saat itulah dia melihat saya dengan pandangan tajam. Padahal, dia sudah jalan empat langkah. Tapi sengaja balik lagi hanya untuk menatap wajah saya. Seperti ada yang mau dia omongin, tapi tak jadi," tuturnya.
Setiba di rumah, Indra pun menelepon Pungky. Pukul 00.01, Indra dan Pungky menyudahi pembicaraan di telepon. Beberapa menit kemudian, seorang teman Pungky menelepon. Tapi, kata dia, telepon genggam Pungky sudah tidak aktif.
Seingatnya, saat itu Pungky memakai celana jins yang panjangnya di atas lutut. Celana ini mirip dengan celana yang dikenakan jenazah pertama yang diantar ke RS Fatmawati pada Minggu (29/3) ini. "Apalagi giginya yang patah kecil, tambah meyakinkan. Saya tadi lihat di foto di Universitas Muhammadiyah. Saya ingin meyakinkan saja sebab tubuhnya terbelah dua. Saya belum boleh masuk," jelas Indra.
Indra menyesal karena mengantarkan Pungky ke rumah itu. Padahal, tuturnya, tempat kos Pungky berada di tempat yang tinggi dan tidak terkena musibah itu. Hingga pukul 13.30, Indra dan delapan temannya masih menunggu kepastian di kamar mayat RS Fatmawati, Jakarta Selatan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang