TOKYO, KOMPAS.com — Harga saham Jepang turun 1,76 persen dalam perdagangan sesi Senin (30/3) pagi. Penurunan itu terjadi di tengah adanya data produksi industri Jepang yang suram saat negara ini terperosok ke jurang resesi yang lebih dalam.
Indikator utama Tokyo Stock Exchange (TSE), indeks Nikkei-225 jatuh 151,91 poin menjadi 8.475,06 pada saat istirahat siang. Indeks Topix dari seluruh saham papan utama TSE juga turun 15,91 poin, atau 1,93 persen, menjadi 808,62 poin.
Menurut Kementerian Perdagangan dan Industri Jepang, produksi industri jatuh 9,4 persen pada Februari dari bulan sebelumnya atau untuk kelima bulan berturut-turut. Sejumlah perusahaan di Jepang memangkas produksinya untuk menanggulangi resesi.
Sementara harga saham China dibuka naik tipis pada Senin pagi, dengan indikator utama Shanghai Composite Index naik 0,15 persen, atau 3,52 poin, menjadi 2.377,96. Sementara Shenzhen Component Index turun 0,03 persen, atau 2,28 poin, menjadi 8.991,87 pada pembukaan perdagangan.
China Securities Index Co (CSI) dan Shanghai Stock Exchange (SSE) hari ini meluncurkan tiga indikator saham untuk mencerminkan kinerja dari perusahaan milik pemerintahan pusat yang tercatat di kedua pasar saham negara tersebut. Ketiga indikator tersebut, termasuk CSI Central SOEs, CSI Central SOEs 100 dan SSE Central SOEs 50, yang dirancang pada 1.000 pada basis tanggal 31 Desember 2008.