JAKARTA, KOMPAS.com — Bakal calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto, mengaku menyesal tidak melakukan kudeta saat kesempatan itu ada tahun 1998. Akan tetapi, karena percaya pada sistem demokrasi, Prabowo tidak melakukannya.
"Saya percaya demokrasi. Saya percaya ini sistem yang terbaik dan saya akan ikuti sistem (demokrasi) ini," kata Prabowo saat bertemu blogger di Kafe Amigos, Jakarta, Selasa malam ini.
Tentang sistem demokrasi, Prabowo mengatakan akan menempuh sistem ini. "Ini satu-satunya jalan yang terbaik," katanya.
Karena sistem demokrasi yang ditempuh, ia percaya satu-satunya jalan dengan melaksanakan pemilu. "Harus dilawan jika ada elite yang ingin curang dalam pemilu. Ini berbahaya karena bisa merusak demokrasi," katanya.
"Selesaikan persoalan demokrasi dengan kotak suara. Jika tidak, maka tujuan dilaksnakan di jalanan dengan kekerasan, kita pernah mengalaminya," kata mantan Pangkostrad itu.
Merujuk pada analisis pakar politik yang kemungkinan adanya 20 juta pemilih siluman dalam pemilu ini, Prabowo meminta para netter di internet yang jumlahnya 30 juta orang menjadi senjata untuk mengkaji masalah kemungkinan kecurangan dalam pemilu ini.
Dalam pemilu yang akan dilaksanakan 9 April ini, Prabowo mensinyalir adanya pihak-pihak yang mau memaksakan kemenangan. Ia mengambil contoh masih adanya undangan terhadap DPT (daftar pemilih tetap) yang belum terkirim sampai sekarang.
"Kalau ini terjadi, bagaimana pemilu bisa dilaksanakan?" kata Prabowo.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang