JBIC Belum Setor, Dana Belum Maksimal

Kompas.com - 01/04/2009, 03:36 WIB

Jakarta, Kompas - Indonesia menunggu dana kontribusi Bank Jepang untuk Kerja Sama Internasional atau JBIC sebesar 100 juta dollar AS.

Dana itu untuk mendukung pembentukan dana infrastruktur, yang dikenal Indonesia Infrastructure Financial Facility (IIFF). Tanpa kontribusi JBIC, pembentukan IIFF tidak maksimum karena modal awal yang terhimpun terlalu kecil.

Deputi Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional Dedy S Priatna mengungkapkan hal itu di Jakarta, Selasa (31/3), seusai berbicara dalam Temu Pengusaha Spanyol- Indonesia.

Seluruh lembaga keuangan internasional dan negara yang akan mendukung IIFF sudah menyetorkan dana, kecuali JBIC. Indonesia sudah menghimpun dana dari Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Bank Dunia masing- masing 100 juta dollar AS.

Kemudian dari IFC, anak perusahaan Bank Dunia, dan unit swasta dari ADB, masing-masing 40 juta dollar AS. Indonesia sendiri mendirikan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang mewakili pemerintah dalam IIFF.

SMI telah mendapatkan modal awal dari pemerintah senilai 100 juta dollar AS. Dari jumlah itu, 60 juta dollar AS di antaranya akan dimasukkan ke IIFF.

”Dengan demikian, tinggal menunggu JBIC agar seluruh modal awal IIFF mencapai 450 juta dollar AS atau sekitar Rp 5 triliun. Dengan uang Rp 5 triliun ini, IIFF bisa menghimpun dana lebih besar hingga 5-6 kalinya di pasar modal dunia. Dengan berdirinya IIFF, Indonesia akan memiliki Rp 25 triliun untuk membiayai infrastruktur,” ujar Dedy.

Dana Rp 25 triliun itu masih jauh dari kebutuhan dana infrastruktur yang mencapai Rp 1.429 triliun hingga akhir tahun 2014. Sementara, kemampuan pemerintah hanya Rp 451 triliun pada 2010-2014.

IIFF diharapkan mulai beroperasi awal Mei 2009. IIFF akan berbentuk perseroan terbatas, di mana pemerintah hanya menguasai 30 persen. Sisanya, dikuasai Bank Dunia, ADB, dan lembaga keuangan internasional lainnya.

Kredit untuk investor

IIFF akan menyalurkan kredit untuk investor pelaksana proyek infrastruktur. Lembaga ini juga bisa mengelola dana lembaga keuangan lokal, seperti dana pensiun atau asuransi.

Dana yang dihimpun dalam IIFF bisa digunakan untuk membangun infrastruktur yang dilakukan investor swasta nasional, regional, atau internasional.

Kontribusi dari Bank Dunia dan ADB akan diberikan dalam bentuk utang. Sebagai PT, pemerintah atau pemegang saham lain bisa mengurangi atau menambah kepemilikannya melalui initial public offering (IPO).

Dalam temu usaha itu, CEO Lembaga Perdagangan Luar Negeri Spanyol Angel Martin Acebes mengatakan, Spanyol menawarkan investasi dalam bentuk teknologi unggul dalam berbagai bidang, terutama infrastruktur perkeretaapian dan pembangkit listrik tenaga angin. (OIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau