Nur Hidayati
KOMPAS.com-PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown. Keduanya menekankan pentingnya para pemimpin G-20 mencapai kesamaan pandangan mengoordinasikan langkah bersama mengatasi krisis global yang saat ini terjadi.
”Seluruh dunia melihat apa yang akan dilakukan para pemimpin G-20 di London dengan harapan kepercayaan dapat dipulihkan,” ujar Presiden Yudhoyono seusai pertemuan dengan PM Brown di London, Selasa (31/3) malam waktu Indonesia.
Presiden Yudhoyono dan PM Brown berharap agar G-20 bisa memastikan reformasi arsitektur sektor keuangan global, termasuk perbaikan kembali kredibilitas lembaga-lembaga keuangan internasional.
Kedua kepala negara juga menyepakati pentingnya mendorong tersalurnya kembali kredit untuk menggerakkan sektor riil, termasuk pembiayaan perdagangan. ”Saya berharap kepada PM Brown sebagai tuan rumah pertemuan G-20 agar konsensus bisa dicapai. Kita tunjukkan bahwa para pemimpin bersatu. Tanpa persatuan, kepercayaan, dan pencapaian konsensus tentu akan lebih panjang upaya kita untuk mengatasi krisis perekonomian yang global ini,” ujar Presiden.
Presiden Yudhoyono juga menegaskan pentingnya konsensus untuk mencapai kesepakatan. Namun, hal yang lebih penting lagi adalah agar konsensus dapat ditindaklanjuti pada tataran operasional demi pemulihan kepercayaan pasar.
Keputusan yang diambil para pemimpin G-20 juga perlu dipastikan agar tidak mengesampingkan kepentingan negara-negara berkembang.
Beri masukan
Presiden Yudhoyono, Senin (30/3) pukul 11.00, lepas landas dari Jakarta menuju London. Presiden diperkirakan tidak mengikuti secara penuh sidang G-20 yang berlangsung pada 2 April itu karena terbentur jadwal kampanye Partai Demokrat di Jawa Timur, 3 April.
Namun, aspirasi penanganan krisis global yang diperjuangkan Indonesia mewakili negara-negara berkembang tetap diperjuangkan. Presiden melakukan itu melalui rangkaian pertemuan bilateral serta jamuan makan malam dan sarapan pagi para pemimpin negara G-20, sebelum sidang dibuka.
”Presiden akan memberi intervensi dan masukan pada saat makan malam dan sarapan pagi,” ujar Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal, Senin, sebelum transit penerbangan di Dubai, Uni Emirat Arab, Senin, menuju London.
Presiden Yudhoyono duduk bersebelahan dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada jamuan makan malam para pemimpin G-20 di kediaman Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, Rabu, 1 April, sebelum pertemuan tingkat tinggi dilakukan keesokan harinya.
Di London, Presiden Yudhoyono melakukan pembicaraan bilateral dengan PM Australia Kevin Rudd, PM Jepang Taro Aso, dan PM Thailand Abhisit Vejjajiva.
Presiden Yudhoyono menyampaikan pidato saat sarapan pagi sebelum sidang umum pemimpin G-20 dimulai. Sidang para kepala negara untuk mencari solusi konkret atas krisis tersebut dijadwalkan berlangsung Kamis, pukul 10.25 hingga 13.20 waktu setempat. Namun, Presiden Yudhoyono direncanakan meninggalkan London tak lama setelah sidang dibuka.
Presiden diagendakan tiba di Surabaya untuk kegiatan kampanye dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Jumat (3/4) siang.
”Dalam masa pemilu yang sibuk, Presiden tetap berangkat ke London karena ini bukan saja kehormatan, tetapi juga tanggung jawab besar bagi Indonesia. Sebagai anggota G-20, kita diajak ikut menjadi bagian garda terdepan untuk memulihkan perekonomian dunia,” ujar Dino.
Para pemimpin negara-negara G-20 dalam pertemuan di London itu diharapkan dapat merumuskan solusi konkret bagi gelombang krisis global yang saat ini terjadi.
Turut dalam rombongan Presiden Yudhoyono dari Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal M Lutfi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bergabung dengan rombongan Presiden di London.
Peraturan
G-20 juga memiliki komitmen untuk meningkatkan peraturan dalam sektor finansial. Akan tetapi, G-20 belum dapat menentukan kapan implementasi aturan-aturan baru tersebut. Anggota G-20 masih bertanya bagaimana menjadi polisi bagi dunia perbankan negara berkembang dan para pelaku pasar yang menjadi akar krisis finansial ini.
Uni Eropa menginginkan badan pengawas lintas batas dengan kekuatan besar untuk menegakkan hukum di sektor keuangan. Inggris dan AS menginginkan perubahan peraturan tetapi melalui pendekatan yang lebih ringan. Mengenai proteksionisme pandangan umumnya adalah urgensi perlu tercapainya kesepakatan dalam perdagangan global bersamaan dengan mengurangi proteksionisme.
KTT G-20 juga merupakan kesempatan emas untuk menawarkan dukungan terhadap perdagangan global. Brown menginginkan ekspansi sebesar 100 miliar dollar AS untuk perdagangan finansial agar dapat meningkatkan ekspor. (JOE)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang