Aku dan gayaku

SEPATU- SEPATU SYAHARANI

Kompas.com - 05/04/2009, 03:16 WIB

Ilham Khoiri

Apa yang kita ingat tentang Syaharani (37), perempuan penyanyi jazz Indonesia? Selain suara mezzosoprano-nya yang merdu, jika jeli, mungkin bisa ingat sepatunya.

Rani, sapaan akrab dia, dikenal punya perhatian khusus pada sepatu. Wajar saja, saat muncul di panggung sepatu menjadi bagian penting penampilan Rani.

Ketika Rani muncul bersepatu bot kulit merah, aksen dinamis muncul saat dipadu dengan kaus hitam dan celana krem selutut. ”Bot merah ini pesanan dari Tegep Boot, Bandung. Enak dipakai karena pas di kaki,” kata dia saat ditemui di rumahnya di Sektor IX, Bintaro, Tangerang, Jumat (3/4).

Lain kali, dia hadir dengan sepatu putih ala gladiator yang talinya melilit sampai betis. Sepatu itu terasa lembut saat disandingkan dengan celana pendek abu-abu serta kaus bermotif pelangi yang ditutup kardigan krem.

”Sekarang, saya sering menyanyi bersepatu gladiator, keds warna-warni, atau wedges berhak tebal. Itu bikin lebih nyaman.”

Saat ini Rani tengah menggeluti proyek Syaharani and the Queenfireworks yang menelurkan album Buat Kamu (2006), hasil produksi sendiri. Sebelumnya, Rani telah mengeluarkan tiga album jazz (What a Wonderful World, Love, dan Syaharani-Syaharani), dan album fusion gaya etnis dan musik dunia, Magma (2004).

Kembali ke soal sepatu, apa pertimbangan Rani dalam memilih sepatu? Sepatu itu, kata dia, harus memenuhi fungsi sebagai alas dan penutup kaki, harus pas bagi anatomi kaki sehingga enak dipakai dan sehat. Setelah itu baru pertimbangan desain dan warna.

”Sepatu yang pas di kaki dan cocok dengan pakaian bikin saya lebih bebas bernyanyi,” imbuh dia.

Sebaliknya, sepatu yang tampak bergaya, tetapi kurang nyaman, seperti stiletto bertumit tinggi dan ujungnya kelewat lancip, sering membuat Rani khawatir. ”Bayangkan saja, sambil nyanyi saya harus mikir, bagaimana jalannya. Kalau kurang hati-hati, ujung hak bisa terjepit di antara sambungan lantai panggung.”

Rani mengaku sangat mementingkan faktor kesehatan dan kenyamanan. Sepatu yang tidak pas, bisa membuat dia goyah di panggung, bikin pegal, bahkan lecet. ”Saya bukan tipe orang yang mau bersakit-sakit demi tampil menarik.”

Meski begitu, dara ini punya sekitar 100 pasang sepatu dari beragam merek, bentuk, dan warna. Ada jenis high heel, bot, wedges, gaya androgini, gladiator, hingga sepatu karet (keds).

Rani membeli sepatu itu dari toko dan butik di dalam atau luar negeri. Sebagian dibeli dadakan untuk pentas dengan aturan baju khusus. Sebagian lagi hadiah atau hibah dari teman dan keluarga, terutama ibunya, Elyzabeth, yang tinggal di Perth, Australia.

”Kalau lagi santai atau jalan-jalan, saya tetap pilih sepatu keds,” kata perempuan yang gemar jalan kaki dan naik gunung itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau