Serangan bom bunuh diri itu semakin kuat mengindikasikan meningkatnya aksi kekerasan di luar perbatasan Pakistan-Afganistan yang terus menjadi medan pertempuran dan meluasnya sasaran operasi kelompok-kelompok garis keras ke kota-kota di Pakistan.
Sehari sebelumnya, Sabtu, kota Islamabad pun diguncang serangan bom bunuh diri yang menewaskan delapan prajurit paramiliter. Adapun seminggu sebelumnya, serangan dilakukan ke sebuah akademi kepolisian di Lahore.
Pejabat tinggi keamanan di Provinsi Punjab, Nadim Hasan Asif, mengatakan, pengebom bunuh diri itu meledakkan dirinya di depan pintu masuk masjid saat berlangsungnya ibadah keagamaan. ”Lelaki tersangka berhenti di pintu masuk, kemudian mendorong dirinya ke dalam masjid dan meledak,” ujar Asif.
Asif ataupun Chaudry Nasrullah, seorang pejabat tinggi kesehatan di Chakwal, membenarkan bahwa 22 orang tewas dan lebih dari 50 orang lainnya luka-luka, di mana belasan dari mereka menderita luka sangat parah.
Farid Ali, yang keluar dari masjid beberapa saat sebelum ledakan terjadi, mengungkapkan, dia merasakan ledakan itu mendorong tubuhnya dari belakang. Ketika melihat ke belakang, dia melihat asap tebal dan abu beterbangan.
Perdana Menteri Pakistan Yousuf Raza Gilani mengecam keras serangan itu dan mengatakan bahwa serangan itu diotaki oleh orang-orang yang melawan negara dan ingin memberikan citra buruk terhadap Islam.
Pemimpin Taliban Pakistan Baitullah Mehsud mengaku bertanggung jawab dan memberikan pujian kepada pelaku pengebom bunuh diri di sebuah akademi kepolisian di ibu kota Provinsi Punjab, Lahore, pekan lalu, yang menewaskan 12 orang, termasuk tujuh polisi.
Dia bertekad untuk melakukan lebih banyak lagi serangan kecuali AS menghentikan serangan peluru-peluru kendali dari pesawat tanpa awak terhadap kelompok garis keras di dekat perbatasan Afganistan.
Serangan-serangan dengan pesawat tanpa awak itu masih terus dilakukan AS sehingga seorang wakil Mehsud memperingatkan, pekan lalu, kelompoknya akan segera melakukan serangan di Islamabad.
Serangan bom bunuh diri di sebuah markas paramiliter di Islamabad, Sabtu, menewaskan delapan anggota pasukan keamanan dan melukai empat lainnya. Akan tetapi, tidak ada satu pun kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan kedua di ibu kota Pakistan itu dalam dua minggu ini.
Sebelumnya, sebagian besar serangan kelompok garis keras di Pakistan dilakukan di wilayah-wilayah dekat perbatasan Afganistan, di mana Taliban dan pendukung Al Qaeda telah mendirikan markas-markas dan sering melancarkan serangan terhadap pasukan AS dan NATO di Afganistan.
Sebulan lalu, seorang pengebom bunuh diri meledakkan dirinya di tengah kerumunan jemaah di sebuah masjid di dekat perbatasan Pakistan dengan Afganistan, yang menewaskan 48 orang dan melukai banyak orang lainnya. Serangan itu dianggap sebagai serangan terkeras di Pakistan sepanjang tahun ini.
Pada saat serangan di Chakwal dilakukan, polisi menyebutkan, sebanyak 1.200 orang memenuhi masjid itu untuk menghadiri sebuah acara keagamaan. ”Polisi-polisi kami, yang dikerahkan di pintu masuk, telah berupaya untuk menghentikan penyerang.
Lebih dari 1.700 orang telah tewas dalam gelombang serangan bom di negara sekutu kunci AS itu sejak pasukan pemerintah berperang melawan kelompok bersenjata. (AP/AFP/Reuters/OKI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang