Penduduk Sipil Jadi Tameng Perjuangan Macan Tamil

Kompas.com - 06/04/2009, 09:48 WIB

COLOMBO, KOMPAS.com - Pertempuran sengit selama 3 hari di Sri Lanka timur laut menewaskan 420 gerilyawan Macan Tamil. Serangan yang digencarkan oleh pasukan Sri Lanka itu telah mengakibatkan gerilyawan Macan Tamil terdesak hingga ke sebuah zona "nontempur" yang menjadi lokasi bermukim puluhan ribu warga sipil.

Perkembangan ini diperkirakan akan mendorong keprihatinan baru masyarakat internasional terhadap keamanan warga sipil yang terperangkap dalam pertempuran di wilayah yang berukuran 20 kilometer persegi. "Macan Tamil saat ini terkurung di zona pesisir, " kata juru bicara militer Sri Lanka Udaya
Nanayakkara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan terdapat antara 150.000 hingga 190.000 penduduk yang terperangkap di zona tersebut dan puluhan di antaranya terancam kondisi keselamatannya setiap hari. Namun, pemerintah Sri Lanka menjelaskan lebih dari 23.000 warga sipil telah lolos dari wilayah itu bulan lalu dan 30.000 hingga 40.000 masih terperangkap di dalamnya.

"Zona nontempur" dideklarasikan oleh pemerintah Sri Lanka awal tahun ini sebagai sebuah tempat bagi warga sipil yang terperangkap di dalam pertempuran. Zona tersebut saat ini menjadi wilayah teritorial Macan Tamil yang tersisa dan dijadikan peralihan fokus bagi gerilyawan yang menargetkan serangan ke warga sipil yang mencoba melarikan diri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau