Demokrat: Anjuran Bawaslu Kurang Tepat

Kompas.com - 06/04/2009, 19:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Meskipun tidak merasa dirugikan dengan pernyataan Badan Pengawas Pemilu yang melarang pemilih mencontreng partai politik yang dinilai banyak melanggar aturan kampanye, Partai Demokrat menilai pernyataan tersebut kurang tepat.

Sebagai lembaga yang bertugas mencatat dan mengumpulkan serta melaporkan pelanggaran kepada Kepolisian Negara RI dan Komisi Pemilihan Umum, Bawaslu juga dinilai sudah memasuki ranah politik dan bisa mengurangi kemandiriannya sebagai lembaga.

Untuk itu, sikap Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat menyarankan agar pernyataan tersebut segera ditarik. Sikap DPP Partai Demokrat itu disampaikan oleh Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, menjawab pers, dalam keterangan di Jakarta, Senin (6/4) sore.

"Menurut kami, pernyataan itu kurang tepat. Tugas Bawaslu itu sudah jelas dan bahkan sangat jelas di Undang-Undang (UU), di antaranya yaitu mencatat dan mengumpulan pelanggaran. Kalau administrasi dilaporkan ke KPU, sedangkan kalau pidana dilaporkan kepada Polri," ujar Anas.

Menurut Anas, apabila Bawaslu menyampaikan pernyataan seperti itu, Bawaslu tidak dalam posisi untuk menganjurkan untuk tidak memilih dan memilih.

"Jika menganjurkan untuk tidak memilih partai yang dianggap banyak melakukan pelanggaran, secara implisit menganjurkan untuk memilih partai yang sedikit pelanggarannya. Padahal, pelanggaran itu tidak dikategorisasi. Kalau partai itu banyak melakukan kampanye, jelas pelanggarannya akan semakin banyak. Sebaliknya, jika sedikit, tentu akan berkurang," tambah Anas.

Dari laporan Bawaslu tercatat, ada 10 partai politik termasuk pelanggar terbanyak aturan kampanye. Lima besar pelanggar terbesar adalah Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) serta Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Anas mengharapkan pernyataan itu dapat segera ditarik oleh Bawaslu. "Terus terang, saya menyarankan supaya pernyataan itu ditarik. Itu bukan untuk kepentingan Partai Demokrat. Insya Allah, pernyataan itu tidak akan mempengaruhi elektibilitas ke Partai Demokrat. Kami yakin. Itu, justru mengganggu kredibilitas Bawaslu sendiri," lanjut Anas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau