Sudah 130 Orang Tewas

Kompas.com - 07/04/2009, 02:08 WIB

ITALIA, KOMPAS.com - Gempa bumi kuat mengguncang Italia tengah ketika penduduk sedang tidur, Senin (6/4) pagi, menewaskan lebih dari 130 orang dan menghancurkan puluhan ribu bangunan. Sedikitnya 50.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat gempa tersebut, kata beberapa pejabat.
      
Sebagian besar dari mereka yang tewas berada di L’Aquila, sebuah kota pegunungan abad-13 yang terletak sekitar 100 kilometer sebelah timur Roma, dan kota-kota serta pedesaan sekitarnya di daerah Abruzzo. "Sejumlah kota di daerah itu hancur sepenuhnya," kata Gianfranco Fini, ketua majelis rendah parlemen, sementara para wakil rakyat melakukan hening cipta untuk menghormati korban.
      
Pemerintah daerah Abruzzo mengatakan, lebih dari 130 orang dipastikan tewas, sekitar 16 jam setelah gempa itu terjadi. Kantor Berita Ansa mengutip petugas-petugas rumah sakit yang mengatakan, jumlah kematian telah mencapai lebih dari 150.
      
Kepala Departemen Perlindungan Sipil Nasional Guido Bertolaso mengkonfirmasi bahwa lebih dari 70 orang tewas namun jumlah resmi korban tidak akan diperbarui sampai keluarga mereka diberi tahu.
      
Departemen Perlindungan Sipil mengatakan, 50.000 orang mungkin telah kehilangan tempat tinggal di sekitar 26 kota. Lebih dari 1.500 orang cedera dan ribuan rumah, gereja dan bangunan roboh atau rusak.
      
Puing-puing bangunan terlihat berserakan di L’Aquila, kota berpenduduk 68.000 orang, dan daerah-daerah berdekatan, yang menghalangi jalan dan mengganggu pekerjaan petugas penyelamat. Perempuan-perempuan tua menangis dan penduduk yang tidak membawa peralatan apa pun namun hanya tangan kosong membantu petugas pemadam kebakaran dan pekerja penyelamat memeriksa reruntuhan.
      
Di kota kecil Onna, 10 orang tewas, kata seorang wartawan foto Reuters yang melihat seorang ibu dan seorang anak perempuannya diangkut di peti jenazah yang sama.
      
Perdana Menteri Silvio Berlusconi membatalkan lawatan ke Moskwa dan mengumumkan keadaan darurat nasional, yang mencakup pengucuran dana dan bantuan serta pembangunan kembali. Paus Benediktus menyatakan, ia berdoa secara khusus untuk para korban gempa tersebut.
      
Rumah-rumah dan bangunan tua yang terbuat dari batu, khususnya di pedesaan sekitar yang tidak mengalami perbaikan berarti, roboh seperti rumah jerami. Rumah sakit meminta bantuan dari para dokter dan perawat di seluruh penjuru Italia untuk menolong korban.
      
Berlusconi mengatakan kepada wartawan di L’Aquila, tenda-tenda dan rumah sakit lapangan akan dibangun di kota itu dan hotel-hotel di pantai Adriatik digunakan untuk menampung korban yang kehilangan tempat tinggal.
      
Penduduk Roma, yang hampir tidak pernah dilanda gempa seismik, terbangun oleh gempa tersebut, yang mengguncang perabotan dan lampu-lampu di sebagian besar Italia tengah.
      
Gempa itu terjadi selepas pukul 03.30 waktu setempat (pukul 08.30 WIB) dan tercatat berkekuatan antara 5,8 dan 6,3 skala Richter.
      
Gempa bumi bisa sangat berbahaya di sejumlah daerah Italia karena banyak bangunan berusia ratusan tahun. Sekitar 2.700 orang tewas dalam gempa di wilayah selatan negara itu pada 1980.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau