Istri Pratu Didik Dirawat di Rumah Sakit

Kompas.com - 07/04/2009, 15:24 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Dwi Lestari, istri Pratu Didik Kurniawan, salah seorang korban kecelakaan pesawat Fokker 27 TNI AU di Bandung, sekarang dirawat di Rumah Sakit Atturot Godean Sleman, Yogyakarta, karena syok setelah mendengar suaminya tewas dalam kecelakaan itu.

"Istri Didik sedang hamil delapan bulan dan kini dirawat di Rumah Sakit Atturot Godean Sleman," kata Sunarsih, kerabat almarhum Pratu Didik Kurniawan di Base Ops Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Selasa (7/4).

Sunarsih bersama keluarga korban lainnya menjemput jenazah korban di Base Ops Lanud Adisutjipto. Dwi Lestari terpaksa tidak bisa menjemput jenazah suaminya, termasuk kedua orangtua Didik, Haryadi dan Rusmiati.

"Didik terakhir pulang pada Maret untuk mengikuti upacara tujuh bulanan istrinya yang hamil anak pertama," kata dia.

Firasat kepergian Didik dialami Haryadi, orangtuanya yang berprofesi sebagai pemecah batu. "Menurut Haryadi, waktu dia memecah batu, kaki terkena pecahan batu hingga terluka dan ketika dia sedang mengiris sesuatu, tangannya ikut teriris," kata Sunarsih.

Ternyata itu firasat akan perginya Pratu Didik Kurniawan dalam kecelakaan pesawat Fokker 27. "Atas permintaan keluarga jenazah Pratu Didik Kurniawan akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Dusun Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman," katanya.

Pihak TNI AU sebelumnya berencana memakamkan jenazah Didik di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara Yogyakarta, tetapi keluarga minta dimakamkan di pemakaman keluarga dengan pertimbangan memudahkan ziarah.

Sementara itu, Saliyo, kerabat Prada Ibnu Setiawan, mengatakan, Ibnu baru bertugas di jajaran TNI AU sekitar dua tahun.

"Keluarga tidak mendapat firasat apa pun sebelum terjadi kecelakaan itu. Ibnu belum beristri dan keluarga juga minta dimakamkan di pemakaman keluarga di Prambanan, Sleman," katanya.

Suasana penyambutan jenazah korban kecelakaan Fokker 27 TNI AU disambut jeritan histeris oleh keluarga korban.

Seperti diberitakan sebelumnya, tujuh jenazah korban kecelakaan pesawat Fokker 27 tiba di Base Ops Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Selasa sekitar pukul 09.15 setelah diterbangkan dari Lanud Halim Perdanakusumah Jakarta.

Jenazah sebelumnya dibawa melalui jalan darat dari Lanud Husein Sastranegara, Bandung, ke Lanud Halim Perdanakusuma kemudian diterbangkan ke Lanud Adisutjipto, Yogyakarta.

Setibanya di Lanud Adisutjipto, ketujuh jenazah tersebut diserahkan oleh Wadan Korps Paskhas TNI AU Kolonel (Psk) Harbin Onde kepada Danlanud Adisutjipto Marsekal Pertama TNI Hari Mulyono.

Ketujuh jenazah yang tiba di Lanud Adisutjipto Yogyakarta itu adalah Lettu Wahyu Nanik Sardi, Pratu Didik Kurniawan, Prada Heru Kustanto, Prada Ibnu Setiawan, Prada Dedi Jati Kuncoro, Pratu Darmanto, dan Pratu Ari Purwanto.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau